Assalamualaikum Pak Jokowi. Sehat Pak? Alhamdulillah ya. Saya ingin mengawali surat terbuka ini dengan doa semoga Pak Jokowi sekeluarga diberikan kesehatan dan waktu luang seperti dahulu untuk kembali nonton konser band rock bareng rakyat. Amin.

Sebelumnya perkenalkan, pak. Saya Edwin Widianto. Buruh tinta Lembaga Pers Mahasiswa Teknik (LPMT) Fenomena UNY. Mahasiswa biasa pak, yang suka nongkrong di sekretariat sambil numpang internet gratis buat download lagu rock dan metal lalu didengarkan di kosan. Sesekali juga download anime buat serep koleksi lagu rock saya yang habis. Asal saya dari Cilacap pak, kota ngapak yang dulu pernah disambangi saat kampanye bapak.

Belum genap dua tahun bapak memimpin negeri ini bersama Jusuf Kalla (JK). Memang kini jadwal bapak kian padat hingga jarang memiliki waktu luang. Saya lihat juga rambut bapak tak serapi dahulu saat memimpin Solo. Biasanya posisi poni bapak sekarang acak-acakan, terurai ke depan.

Saya masih ingat berita televisi yang pernah beredar, saat ditegur wartawan terkait poninya, malah bapak berujar “sudah mas, lagi mikir yang lain,”. Padahal saya lihat di film dokumenter WatchDoc yang berjudul “Yang Ketu7uh” bapak sangat memperhatikan sekali penampilan. Apalagi rambut klimis bapak. “Ndi? Sisire? (Mana? Sisirnya?),” tanya kepada abdinya di kantor Walikota Solo dulu. Alasan bapak waktu itu takut terlihat jelek kalau enggan sisiran, keluarnya parah. Memang ada apa pak? Kok sekarang tidak takut kelihatan jelek lagi?

Sebagai salah satu rakyat, saya merasa senang sudah pernah berjumpa langsung dengan bapak saat berkunjung ke Cilacap, tepatnya di Masjid Agung. Saat hendak menunaikan ibadah salat Jumat, saya lihat kehadiran bapak tiba-tiba menjadi magnet tersendiri bagi warga sekitar maupun jemaah yang sudah hadir. Akibatnya saya lihat pintu masuk utama pun jadi tumbal rasa penasaran mereka kepada bapak. Saya coba cuek saja dan lanjut ke tempat wudu, lah wong niatnya ibadah bukan ketemu bapak.

Eh pas selesai wudu, kebetulan malah bapak di samping saya mau menyucikan diri juga. Entah sebuah keberuntungan atau takdir mempertemukan kita pak, cie. Saya langsung refleks menunggu bapak selesai wudu lalu menyodorkan tangan untuk berjabat akrab. Rasanya kasar kulit telapak tangan bapak. Agak hangat juga. Mungkin saya pikir bapak kelelahan ya mondar-mandir untuk kampanye. Hmm, sesekali jaga kondisi pak biar strong-nya konsisten.

Usai perjumpaan tak direncanakan itu, saya agak penasaran nih sama bapak. Bergegas browsing di warnet, saya langsung mendapatkan temuan yang bikin empati seketika. Saya tidak menyangka pak, njenengan penikmat setia lagu rock. Berbeda sekali selera musik bapak dengan pejabat-pejabat yang saya tahu. Presiden SBY contohnya yang malah suka bikin album berisi lagu mendayu tiap tahun.

Semakin penasaran mendalami, saya justru menemukan 6 band favorit bapak. Dari Megadeth, Led Zeppelin, Lamb of God, Black Sabbath, Deep Purple, hingga Queen. Tak ketinggalan juga bapak mengoleksi kaset album dari beberapa musisi mancanegara. Saat adanya konser Rock in Solo 2013 pun bapak sebagai Gubernur DKI Jakarta tertangkap basah menyelinap nonton. Benar-benar maniak band rock saya pikir pak, beda dengan konglomerat yang lain.

Saya tambah penasaran, apa latar belakang bapak suka lagu cadas. Membaca tempo.co dijelaskan kata bapak musik keras membawa semangat pendobrak dengan lirik yang dapat diartikan luas. Tidak hanya membahas cinta saja seperti Rizky Febian, tapi ada mengenai lingkungan, anti korupsi, hingga peperangan. Sependapat saya pak! Lagu rock dan metal memang bikin gairah naik.

Saya juga menemukan foto bapak di konser Rock in Solo 2013. Fenomena nonton bareng penonton lain sambil berdiri bersama mengangkat tangan ke atas dengan gaya metal, terlihat keren sekali pak. Namun kini sepertinya saya sulit menemukan lagi bapak berkeliaran bebas ke konser band rock. Apa kesibukan bapak yang makin meningkat karena fokus mengurusi hajat rakyat Indonesia sebagai penyebabnya?

Rindu saya pak, kapan ya menjumpai momen bapak kembali menikmati konser band rock lagi bersama penonton lain disela-sela kesibukan yang ada. Sembari menguatkan nawacita revolusi mental yang digalakkan dengan semangat pendobrak dari lagu rock. Mungkin perlu diagendakan lagi pak, ke konser band rock dan metal untuk perubahan yang nyata.

Bicara soal revolusi mental, kemarin kampus saya jadi tuan rumah Forum Rektor Indonesia (FRI) 2016 yang membahas tersebut lho pak. Saya sebagai mahasiswa yang berasal dari tuan rumah kongko-kongko rektor Indonesia ingin meminta maaf pak. Malah tidak menyuguhkan konser rock sebagai penyambutan bapak beserta tamu yang lain. Sepurane ya pak.

Pasti bapak pusing ya melihat tamiya dan boneka masa kini dalam prosesi penyambutan. Biasa nonton konser rock malah disuguhi mainan. Ya seperti itu pak, revolusi mental di tempat saya belajar. Semua harus (dipaksa) berkiblat pada mainan itu. Walau tidak meningkatkan kemampuan seluruh mahasiswa. Lebih condong meningkatkan citra kampus saja.

Belum ada sama sekali diskusi umpan balik antara birokrasi dengan mahasiswa dan sebaliknya. Kebanyakan adanya malah sosialisasi pak (up to down). Kita minta revisi karena kurang pro mahasiswa malah dibilang pikiran sempit. Padahal membentuk good governance saja belum bisa, kok bapak mau-maunya diskusi bareng mereka masalah revolusi mental. Lah wong yang konservatif siapa sekarang coba pak? Kritik memang pedas rasanya, kaya ayam geprek tamkul tapi bikin lancar besok pagi.

Malah kami yang vokal (down to up) karena merasa memiliki tanggung jawab social control mengalami tindakan represif dari birokrasi kampus pak. Sebut saja kasus tahun 2014, produk LPM Ekspresi yang akan dibagikan ke wali mahasiswa saat ada pertemuan dengan rekor tiba-tiba dibredel. Alasannya abu-abu lagi. Kelakuan kaya begitu kok bahas revolusi mental? Hmm..

Mungkin saya pikir sudah saatnya Pak Jokowi untuk nonton kembali konser rock di tengah kesibukan sekarang. Jangan lupa juga ajak rektor maupun dekan seluruh Indonesia pak. Biar mereka paham semangat pendobrak seperti yang dibutuhkan pada revolusi mental. Daripada mereka cuma bepergian ke luar negeri yang manfaatnya terasa sama mahasiswa saja tidak. Boro-boro untuk kerja bakti sama mahasiswa bersihkan kampus saja masih susah ding pak. Berkeliaran di kampus juga jarang untuk mengamati proses perkuliahan. Lebih enak di ruang ber-AC mungkin bagi mereka. Pemimpin merakyat memang jarang ditemui sekarang.

Saya juga berharap, bapak mengajari mereka untuk salam metal yang biasa bapak lakukan kalau lagi menikmati konser band rock bareng penonton lain. Agar kemudian mereka sadar dan merasa beruntung memiliki mahasiswa yang suka kritik birokrasi. Karena kritik dari proses koreksi yang dilakukan mahasiswa bukan bertujuan menjatuhkan citra kampus yang sudah terbangun. Justru untuk memperkuat citra yang hambar dengan bumbu ala mahasiswa. Jadi makin mantap to?

Sekian surat terbuka dari saya pak. Jangan lupa pesan-pesan yang saya coba tuliskan dalam media ini. Doakan saya juga pak semoga saya juga bisa jadi dekan atau rektor selanjutnya. Sebelum melenggang serius melawan kader-kader bapak dalam ajang pilpres entah ke berapa. Hahahaha.

Maaf itu hanya wacana saya saja pak. Saya fokus cari pasangan hidup dulu sebelum menuju ke jenjang lebih serius. Terima kasih pak. Salam rocker, jangan lupa sisiran ya pak biar tambah ganteng!