Waspada Jurnalisme di Facebook.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi web yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. Secara singkat media sosial ialah wadah bagi masyarakat atau pengguna untuk dapat saling berinteraksi secara tidak langsung dengan melalui internet. Pengguna dapat membagikan apa saja yang sedang mereka lakukan, baik dengan menggunakan tulisan, gambar, maupun video, dan pengguna lain dapat memberikan like, komentar dan membagikan kepada pengguna lain sebagai bentuk interaksi.

Media sosial memiliki peranan penting diberbagai lini kehidupan. Media sosial saat ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mempromosikan usaha mereka, maka tak heran jikalau saat ini banyak wirausaha yang mulai merambah bisnis online dan mulai membuat sistem online untuk usahanya, media sosial juga dimanfaatkan dalam dunia politik, hal ini dapat dilihat ketika pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014 silam, media sosial digunakan sebagai sarana kampanye, dan masyarakat juga turut mendukung melalui media sosial. Pada lini pendidikan media sosial kini banyak dimanfaatkan untuk mengunggah tugas, ataupun berbagi informasi seputar materi pendidikan. Selain itu media sosial juga menjadi media untuk mencerdaskan konten-konten yang tersebar.

Pada lini pemerintahan saat ini banyak pemimpin negeri ini menggunakan akun sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat ataupun mengali permasalahan yang ada pada masyarakat. Warga Indonesia sempat ramai di media sosial ketika presiden SBY membuat akun twitter dan facebook untuk menginformasikan kegiatan kepada masyarakat. Walikota Bandung Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun juga menggunakan akun sosial untuk berinteraksi kepada masyarakat dan bahkan untuk urusan kerja. Media sosial juga mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Saat ini banyak sekali gerakan, komunitas, atau perkumpulan untuk turut membantu dalam membangun Indonesia. Contoh kecil ketika Rio Haryanto ingin menjadi salah satu pembalap di Formula 1 namun terkendala dana, maka melalui media sosial ada inisiator untuk melakukan penggalangan dana.

Media sosial saat ini beranekaragam mulai dari facebook, twitter, tumblr, bbm, path, instagram, blog, line, dan masih banyak lagi. Namun sebelum media sosial tumbuh sebesar sekarang, dahulu bahkan sampai saat ini media sosial yang sering digunakan ialah facebook. Dalam catatan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga akhir 2014 pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 88,1 juta jiwa. Naik sekitar enam persen dari 2013 dengan 71,9 juta pengguna. Sedangkan Dalam catatan The Wall Street Journal, jumlah pengguna facebook di Indonesia sampai dengan bulan Juni 2014 sudah mencapai angka 69 juta anggota. Hal ini menandakan bahwa 1 dari 4 orang di Indonesia menggunakan media sosial ini.

Media sosial ciptaan Mark Zuckerberg ini memang menawarkan beberapa keunggulan untuk user semisalkan group, chatting, video call, games, dan masih banyak lagi. Awal mula facebook hanyalah difungsikan untuk menceritakan kejadian yang sedang dilakukan, atau membagikan apa yang sedang dipikirkan, selain itu juga dapat mencari group komunitas untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Namun seiring perkembangan jaman dan mulai bermunculan aplikasi media sosial yang lebih praktis dan mudah digunakan, facebook cenderung tidak digunakan untuk hal-hal yang bersifat rutinitas.

Jika dahulu sering melihat teman membagikan status secara rutin sehingga beranda dipenuhi dengan keluhan, curhatan, ataupun kebahagiaan teman, maka saat ini jarang sekali dijumpai seperti itu. Saat ini facebook terasa difungsikan sebagai media informasi semata, media informasi yang diperuntukkan untuk banyak orang seperti halnya berita, maka tak heran jika saat ini banyak postingan berita yang menghiasi beranda facebook entah itu berita yang dibagikan secara langsung, tautan berita, maupun berita yang dibagikan oleh teman. Selain itu facebook juga dijadikan sebagai media jurnalisme warga untuk membagikan infomasi yang terjadi di sekitar masyarakat. Warga atau masyarakat saat ini dengan mudah dapat melakukan aktivitas jurnalisme menggunakan media sosial, seperti mengunggah gambar kecelakaan disertai tulisan berupa keterangan yang singkat. Hal seperti itu sudah termasuk dalam jurnalisme warga. Jurnalisme warga tentu juga harus menggunakan pakem jurnalisme terutama dalam hal kebenaran karena warga mempunyai hak atas apa yang telah diunggah sehingga harus dapat dipertanggungjawabkan.

Terintegrasinya media sosial satu sama lain mengakibatkan perputaran informasi semakin cepat dan dengan mudah menyebar luas. Hal seperti ini memang tak dapat dihindarkan, karena memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Kelebihannya ialah informasi yang tersampaikan lebih cepat dan juga pengguna dapat dengan mudah mengetahui informasi yang sedang terjadi tanpa harus menunggu dari surat kabar lagi, dengan membuka facebook saja saat ini sudah dapat melihat berita yang terjadi. Namun disisi lain banyaknya informasi yang beredar di facebook membuat pengguna harus berhati-hati, karena tidak semua yang informasi yang diberikan itu bisa dapat dipercaya, bisa saja berupa propaganda ataupun membuat publik berspekulasi negatif.

Pengguna dituntut untuk lebih jeli dan teliti dalam membaca maupun membagikan berita yang beredar di media sosial facebook, jangan asal membagikan tanpa membaca terlebih dahulu konten yang kan dibagikan karena akan berakibat fatal. Jika berita yang dibagikan itu salah maka para pengguna lain juga akan menjadi korban ketidaktahuan akan informasi tersebut.

Pengguna juga harus memerhatikan judul berita pada tautan yang dibagikan pengguna lain, saat ini banyak sekali judul berita yang tidak memenuhi standar jurnalistik, biasanya ditulis dengan capslock dan lebih dari 10 kata. Pemilihan judul berita memang penting untuk pembaca, karena dengan judul yang menarik maka judul tersebut mempunyai daya tarik tersendiri bagi pembaca, namun disisi lain judul harus disinkronkan dengan isi pemberitaan, kadang di era saat ini banyak ketidaksinkronan antara judul dan konten berita. Hal inilah yang sangat disayangkan karena menodai dunia kejurnalistikan. Selain memerhatikan judul yang harus diperhatikan ialah pengguna pembagi informasi tersebut apakah lembaga ataupun pengguna biasa. Jika lembaga maka tingkat kepercayaannya lebih tinggi dibandingkan dengan pengguna biasa.

Menjadi pengguna media sosial haruslah cerdas dalam memilih dan menyikapi akan hal seperti ini, menggunakan kepala dingin dan mencari kebenaran ataupun referensi lain ialah salah satu hal untuk menahan emosi agar tidak terprovokasi oleh berita yang tidak cerdas. Sekali lagi pengguna harus jeli dalam sumber berita, meskipun itu jurnalisme warga, objektifias dan kebenaran haruslah dicari dari berbagai sumber bukan hanya satu sumber semata.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *