Selamat Jalan Wija

Seperti biasa aku memainkan mouse laptop yang kuarahkan ke pesan facebook. Kulihat Tiwi teman smp dulu yang sekarang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta Yogyakarta mengirim pesan.

“Wija ngga ada San”

Ngga ada gimana?”

“dia udah di panggil”

“maksudnya?” pesanku belum terbaca oleh Endah.

Aku masih bingung dengan pesan tersebut. Wajar saja, karena 1 bulan yang lalu dia kerap menelfon dan masih chatting. Kuketikkan namanya di pencarian. kulihat fotonya yang naik gunung bersama kawan-kawannya. Klik langsung ke pesan.

“Assalamualaikum, eh apa kabar Ja? Kamu ngga sakit kan?”

Beralih lagi aku menelusuri dinding facebook-nya. Ternyata dia suka naik gunung. Berbeda sekali denganku, bukan karena aku takut naik gunung. Tapi setiap kali aku ijin untuk mendaki pastilah orang tuaku melarang.

Kebiasaan orang tua yang selalu mendapatkan berita kematian pendaki gunung. Membuatku diwanti-wanti untuk tidak naik gunung. Pernah sekali aku ijin untuk naik ke gunung karena diajak teman.

“Bu, aku ijin naik gunung ya. Ada temen cewe juga kok. 3 hari doang, ngga boleh ya pasti? Ya udah deh bu.”

“bukannya ibu ngga boleh gitu, kamu tu belum tau perasaan jadi ibu. Coba kamu jadi ibu deh. ibu belum percaya sama teman-teman kamu. Nanti kalo udah nikah kamu boleh sama suamimu naik ke gunung manapun. Udah paham?”

Jantung serasa mau meledak.  Sms itu membuatku tau betapa ibuku menyayangiku. Dengan berat hati, setiap kali diajak naik gunung aku tidak ikut, meskipun itu hanya mendaki bukit sekalipun.

“nanti tak kasih tau ceritanya aja ya San”ledek temanku yang ikut pecinta alam.

Aku selalu diam dan menunggu cerita mereka setelah naik gunung. Suasana gunung yang dingin ditemani susu jahe yang diminum bersama-sama, api unggun, duduk diluar tenda memandang langit penuh bintang, melanjutkan perjalanan menuju puncak, bertemu awan, melihat matahari terbit, dan menghirup dalam-dalam udara di senja pagi. Begitu indah… dan aku hanya dapat membayangkannya.

Aku masih menunggu balasan dari Wija, ku coba menelfonnya namun nomornya sedang tidak aktif. Aku semakin khawatir, bergulat dengan banyak pertanyaan.

Terlihat beranda facebook-ku penuh dengan ucapan turut berduka atas kepergian Wija. Beruntun teman-temannya mengupload foto-foto lama naik gunung dan disematkan kata selamat jalan kawan.

Wija adalah teman SMP-ku dulu, dia akhir-akhir ini selalu menelfonku.

“lagi ngapain, aku ganggu ngga kalo telfon jam segini?” ku lihat jam di laptop pukul 10 malam

“lagi bikin video ni, kamu sih telfon malem mulu. Ngga ganggu ko kenapa?”

“pagi kan kamu kuliah. Kangen pengen ketemu aja, kapan balik ke Jogja?”

“oh, besok aja kalau kita reunian waktu lebaran di guru-guru smp, udah seminggu aku balik”

Kamu diam lama, “lama dong ya?”

“ya libur semester lah, ngga ada kegiatan po?

“ngga ni lagi di kos sama temen”

“ngga keluar?”tanyaku singkat sambil nggerakin mouse

“ngga lagi males. Pusing e San”

“pusing ya minum obat lah”

“ngga ada obatnya San”

Aku baru menyadari kamu ternyata sakit selama ini, dan tidak kamu memperlihatkan. Yaiyalah kan kita ngga ketemu, maksudnya kamu ngga jelasin gitu sama aku. Emangnya kamu siapa San.

Kamu udah akrab banget sama ibuku. Kalau aku sibuk pasti kamu telfon ibuku. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat sendiri. Inget ngga, SMP kita selalu bertengkar. Kamu selalu menggangguku. Kamu duduk di belakang kursiku. Kakimu yang panjang itu selalu mendorong kursiku maju kedepan. Dan aku selalu marah karena kelakuanmu itu. Lulus SMP kita udah beda sekolah, aku SMA dan kamu memilih di SMK.

Kamu masih sempat menceritakan kisah cintamu diterima cewe idaman tapi akhirnya putus setelah satu minggu jadian, cerita kalau menang lomba, cerita malam minggu sendirian dan aku pun juga sendirian. Entahlah, aku hanya suka mendengarkanmu cerita lewat telepon.

Lulus SMK akhirnya kamu diterima di salah satu perusahaan di Bekasi. Aku melanjutkan kuliah di Yogya.

Aku ingat pesan terakhir kali kamu menelfonku “San, aku kuliah pengen. Tapi ada ngga waktu ya?”. Aku hanya menjawab “ya itu uangnya ditabunglah biar bisa kuliah lagi.”

Sepertinya kamu sudah menyadari akan kepergianmu, tapi tak ingin semua orang tahu rasa sakit kanker otak.

 

Wija,

Selamat jalan kawan,

Kisah waktu smp yang mempertemukan kita,

Lebaran 2 tahun lalu kita terakhir bertemu,

Jika waktu tidak mempertemukan lagi kita di dunia

Semoga kita tetap bisa bertemu di alam yang berbeda,

Semoga Tuhan menempatkanmu di tempat yang terindah,

Oh ya,

Mengapa waktu itu aku menolakmu,

Karena aku tak ingin kita berpisah,

Aku tak ingin kita ngga lagi kenal,

Alasan klasik yang aku lontarkan itu,

“aku mau fokus ujian”

Sebenernya aku berbohong,

Aku terlalu takut mengartikan arti pacaran

Tak ingin aku berpisah

Dan ngga lagi kenal dan berbeda

Aku ingin kita tetap bersahabat.

Maaf ngga bisa mengantarkan jasadmu ke tempat terakhir

Aku tetap mendoakanmu disini

Selamat jalan sahabatku,

Wija.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *