Kesempatan kali ini saya mencoba menulis yang sedikit nyentrik bagi pembaca semua. Tentang gairah membaca mahasiswa. Tentunya membaca buku lho ya? bukan perasaan lawan jenis, eh. Simpel tapi banyak yang mengeluhkan. Hingga sering timbul pertanyaan, Apa kini terlalu berat membaca buku bagi mahasiswa? Katanya lebih berat menerima posisi jomblo untuk saat ini? Hmm, labil deh.

Waktu itu (8/3), saya mengikuti mata kuliah Regulasi dan Manajemen Transportasi dengan pemantik Pak Kir Haryana. Ciri-ciri orangnya kurus, kulit hitam, dan rambut ikal. Biar realitas berkulit hitam, tapi tidak semata-mata menggelapkan pola pikirnya. Saya akui beliau termasuk orang update dan kritis dengan kondisi sekitar. Bukan rasis lho ya penjelasan sebelumnya. Hehehe

Saat pembelajaran telah usai, tiba-tiba beliau melontarkan kalimat yang mampu bikin situasi hening sejenak dan memaksa kita berpikir bersama. Tentang kondisi bahwa budaya literasi Indonesia berstatus gawat darurat. Beliau juga berkata bahwa pemerintah juga sedang menggarap aturan mewajibkan siswa maupun mahasiswa untuk membaca buku 10 menit sebelum memulai jam pembelajaran.

Rangsangan yang dilemparkan tadi seketika langsung ditangkap otak saya. Penuh hasrat, saya mencoba menelusuri keabsahan kalimat beliau tadi. Astaga, benar-benar real ternyata yang disampaikan. Membaca nasional.sindonews.com, diterangkan bahwa budaya literasi Indonesia ternyata terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2012. Diperparah lagi, data dari UNICEF malah menjelaskan bahwa minat baca Indonesia pada 0,01%. Artinya, di Indonesia satu buku dibaca oleh seribu orang.

Coba berkontemplasi bersama kawan, mungkin kita juga senasib gawat darurat (polemik asmara) mirip Indonesia dalam literasi. Tapi demi negara tercinta, sebagai kaum terdidik harus bisa memberikan aura positif juga kepada sekitar. Daripada terus-terusan menggalaukan nasib yang belum beruntung. Mementingkan diri sendiri seperti hanyut dengan ketidakjelasan pikiran.

Lebih baik kita produktif dalam hal membaca buku. Kemudian mendiskusikan secara bergiliran dan syukur-syukur ada yang membuat tulisannya. Tak hanya kita yang mendapatkan manfaatnya lho, Indonesia di mata dunia juga bakal naik kualitas sumber daya manusianya. Sempurna, hidup kita bakal lebih berkualitas, martabat negara terangkat!

Perlu dipahami, dalam melaksanakan konsep roda produktif tersebut pasti banyak halangan yang bakal melintas. Entah bersifat menghambat maupun memacu untuk lebih produktif. Sebagai mahasiswa yang diam-diam mengamati kejadian sekitar, saya mencoba memberikan hasil pemetaan terkait beberapa halangan. Berikut analisa saya jelaskan.

1. Handphone yang kini menjadi kebutuhan primer

Pergeseran semakin nyata bahwa dunia nyata melebur dengan virtual reality. Berkumpul di kampus saja kini bukan buat berbincang dengan yang lain, malah asyik dengan handphone-nya masing-masing. Tertawa sendiri. Tiba-tiba galau terus menangis. Semudah itukah perasaan mahasiswa digoyang oleh benda berlayar kurang lebih 5 inchi? Hingga pernah ada seseorang yang bilang, “Mending beli kuota daripada makan.” Lantas bagaimana nasib nasi burjo dan angkringan? Apalagi penjual buku ya? tragis memang zaman sekarang. Saya yakin paling buku bacaan anak teknik ya jobsheet. Kalau punya pun buku paket dari universitas, seperti Mengenal Lebih Dekat UNY contohnya. Tapi saya mencoba positive thinking dengan “walaupun begitu mereka tetap membaca.” Kurang terpantau saja kali ya sama lembaga survei.

2. Sifat “kupu-kupu dan kura-kura” mahasiswa

Aktivitas mahasiswa kini yang sering terdengar yakni istilah kuliah pulang (kupu) dan kuliah rapat (kura).  Karena berkali-kali dilakukan jadinya kupu-kupu dan kura-kura. Tidak ada yang salah pada kedua hal tersebut. Namun, terkadang dengan kesibukan tersebut justru membuat kita lupa untuk membaca. Dalam berorganisasi maupun tidak, perlu pengaturan waktu agar menjadi pribadi yang efektif. Terasa berat memang untuk terbiasa konsisten akan jadwal yang kita buat sendiri, tetapi dengan menyisipkan waktu untuk membaca niscaya akan terasa manfaatnya.

3. Pikiran sempit mahasiswa tentang tugas

Tugas, satu kata yang selalu menghantui mahasiswa dimana pun mereka berada. Satu kata yang bisa membikin mahasiswa galau, sedih, tertekan, happy dan bahkan merasa selalu kurang. Tugas kuliah memang menjadi hal untuk melatih rasa tanggung jawab seseorang. Tetapi, tugas mahasiswa sebenarnya tidak hanya pada tiap mata kuliah saja. Tri Dharma perguruan tinggi yang berisi pendidikan, penelitian dan pengabdian justru merupakan the real tugas mahasiswa. Dalam menuntaskan the real tugas mahasiswa, tidak bisa hanya mengandalkan dengan materi yang didapatkan melalui bangku kelas saja. Ada berbagai macam cara untuk memperkaya wawasan kita agar siap menyelesaikan tugas tersebut, salah satunya dengan membaca buku.

4. Pemahaman mahasiswa terhadap “Pacaran”

Masa mahasiswa merupakan momen yang serba baru, dari identitas, atribut hingga kawan, yang terkadang malah bikin cerita baru dan menjadi kenangan. Awal jadi mahasiswa biasanya banyak yang seketika jatuh cinta, ibarat kaya cinta lokasi, tetapi hai kalian mahasiswa, pacaran sama orang sudah hal biasa yang suatu hari bakal merasakan juga. Sekarang coba saya tanya, pernahkah berpikir untuk pacaran dengan buku? agak aneh jika dikaitkan dengan pacaran pada umumnya, tapi ini ide menarik. Dari berpacaran dengan buku, wawasan kita akan bertambah karena setidaknya memahami isi atau pesan tersirat dari buku. Efeknya, dalam menghadapi hidup bakal memiliki berbagai pilihan dalam menentukan keputusan berjalan. Fantasinnya luar biasa!

Berikut merupakan hasil pemetaan beberapa halangan yang kerap melanda mahasiswa untuk lebih produktif. Hasil pemaparan di atas merupakan pengaruh eksternal terhadap diri seseorang. Halangan sesungguhnya yang sejak dini harus dikalahkan agar lebih produktif dalam hidup ialah diri sendiri. Semangat, kalahkan diri sendiri!