“Jangan baba menghalangiku. Aku tetap akan meneruskan jalanku.”

“Sekali kamu meninggalkan rumah ini, kamu bukan lagi apa-apa dikeluarga ini. Jangan harap mendapat pengakuan dan warisanku, anak gila, anak tak tahu diuntung !!” kata baba sambil mengacung-acungkan jarinya ke wajahku

“Tenang saja Baa, aku tak menginginkan semua itu. Aku hanya pamit pada Baba dan Mama,”

Aku melirik Tuaci. “jaga mereka untukku” kalimat itu meluncur pelan dari mulutku, kakiku sebenarnya berat meninggalkan rumah ini, rumah dengan penuh kenangan di masa kecil. Kisah itu bak berputar kembali seperti klise film tua, hingga teringat juga cerita bahwa ari-ariku dipendam disamping rumah agar aku betah untuk tinggal ditempat ini, sama seperti Ci Mey dan suaminya Khoh Juan yang menikah dua bulan yang lalu, selepas aku menamatkan pendidikan SMA ku.

“Urungkan niatmu A Feng,” tangan Tuaci seperti mencoba menghalangi tubuhku, walaupun badannya sudah jelas jauh dari tempatku berdiri, Ci Mey memeluk Mama yang menangis. Aku tak kuasa melihatnya dengan keadaan seperti ini, tapi tubuhku tidak ingin menoleh dan menghambur begitu saja kearah Ci dan Mama.

“Ci, Tuaci.. aku tak bisa, bukankah Tuaci sudah tahu apa yang ku inginkan. Aku ingin sekolah Ci, Aku masih muda dan keinginanku sudah bulat. Aku tidak mau hidup penuh kekangan Baba.”

10 tahun sudah setelah kejadian itu, ledakan amarah baba, tangisan mama dan Ci Mey Lan terbersit kembali di otakku. Gelombang panas pada telinga dan rasa sesak didada yang mengembang menahan pecahnya tangis. Senja yang renta dan daun jati mulai meranggas. Gugur bagai rontokan airmata tapi itu sama sekali bukan alasan untuk kembali lagi kerumah itu. Aku sudah membuang jauh semua kenangan-kenangan terdahulu. Kini aku sudah bahagia bersama Sarah dan anakku Topan.

Namun mimpi semalam, Mimpi macam apa itu?, mimpi tentang gagak dan payung hitam dipangkuan baba.

“A Feng, pulanglah”

“aku tak bisa Tuaci”

“baba.”

“Hanya anak laki laki yang berhak membawa hoe!!!. Baba meninggal tadi petang.” Terdengar pecah tangis Ci Mei. Tenggorokanku tercekat. Dan sakit sekali. Semua duka dan perasaan bersalah menyelimuti keheningan.

Sarah mendekat sambil menggendong Topan kecilku, cucu laki-laki baba. Tanpa banyak berkata dia membereskan pakaian-pakaian dan keperluan lainnya. Lantas menelpon agen tiket pesawat menuju Surabaya. Penerbangan tercepat saat itu. Aku lunglai.

Meja persembahan sudah dipenuhi sam seng yang terdiri dari daging, minyak dan darah babi, ayam dan telur bebek. Semua direbus dan diletakkan di piring lonjong. Asap meliuk-liuk dari pembakaran, nyuko uang berwarna emas dan perak yang ditengahnya bergambar bujur sangkar sebagai bekal perjalanan akhirat baba di kehidupan ruh. Seharusnya putra tertua memegang foto almarhum dan sebatang bambu yang diberi sepotong kertas putih yang bertuliskan huruf Cina, “Hoe”. tetapi karena Ci Mei wanita maka akulah yang berhak dan diwajibkan untuk ini, putra tertua harus berjalan dekat peti mati, diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain. Begitu peti mati diangkat, dan aku sudah bersiap mengiring, sebuah semangka dibanting hingga pecah sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia ini sudah selesai.

Kulangkahkan kaki keluar dari rumah persemayaman. Aku tidak menyangka banyak sekali handai taulan yang hadir. Bahkan hampir seluruh warga tumpah disini. Wajah mereka sayu dan haru. Rupa-rupanya kehadiranku sungguh dinanti. Sarah yang kunikahi diam-diam, disambut mama dengan senang. Topan dengan setelan jas hitam dan juga dasi kupu-kupu diciumi pipinya oleh mama.

Selama upacara doa berkabung dari pelayat mencapai puncak, peti mati mulai dipaku rapat. Penyegelan tersebut merupakan pemisahan dari mati dengan yang hidup. Kertas emas dan perak disisipkan di peti mati sebagai pelindung tubuh agar tidak diganggu oleh roh ganas.

Selama penyegelan peti mati semua yang hadir berpaling dari peti mati, masyarakat beranggapan bahwa melihat sebuah peti mati yang disegel akan membuat kehidupannya tidak beruntung. Peti mati itu kemudian dibawa dari rumah (oleh pengusung jenazah dianggap melimpahkan berkat dari almarhum pada pembawa, sehingga biasanya ada banyak relawan) dengan menggunakan sepotong kayu yang diikat diatas peti mati.

Peti mati baba tidak dibawa langsung ke kuburan tapi ditempatkan pada sisi jalan di luar rumah, di mana lebih banyak doa-doa dikumandangkan dan kertas disebarkan. Lalu ditempatkan di mobil jenazah, yang bergerak perlahan sepanjang satu mil, diiringi anak tertua dan anggota keluarga yang mengikuti dari belakang dengan kepala menyentuh mobil jenazah.

Aku duduk disamping peti baba, terlihat dari spion sepotong kain putih terikat pada kendaraan yang menyertai mobil jenazah. Sebuah tongkat, kertas menyala ditaruh di sepanjang perjalanan, melambangkan jiwa yang meninggal, dan memulai perjalanan.

“Baba, kita akan lewat jembatan. Lewati air” Aku ingin menaggis dan memeluk peti mati Baba, tapi sebagai anak laki-laki apalagi didepan Ci, khoh Jung, mama dan Sarah aku tidak ingin menapakkan kesedihanku.

Prosesi pemakaman telah selesai. Aku bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Ci Mey melarangku.

“Feng, tinggallah barang tujuh hari. Kamu tidak kasihan dengan Sarah dan Topan. Ini kali pertamanya menginjak rumah ini. Pikirkan tentang mama” Sendu Ci dengan kedua mata yang benar-benar sembab. Aku hanya bisa mendiamkan sampai Ci keluar dari kamarku. Kamar yang seperti tidak pernah berubah.

Jam 2 siang aku akan berangkat kembali, tiket dan persiapan telah beres. Topan tidur digendongan Sarah. Mama menghampiriku, dia menyodorkanku kertas putih yang dilipat dua simetris. “Baba?” aku cepat-cepat meraihnya

Untuk anakku, A Feng

Maafkan Baba nak, baba seharusnya mengatakan ini dari awal. Biar kamu tidak merasa jijik dan muak dengan baba. Baba bukan rentenir yang seperti kamu tonton di Tv itu, baba melakukan ini demi semata mata membantu warga sini, pikirkanlah nak. Jika selama ini mereka tidak mendapatkan modal siapa yang bisa bercocok tanam tanpa modal. Awalnya baba hanya menolong beberapa warga yang sekaligus teman baba, tapi kabar ini begitu cepat menyebar, dikelahiranmu sebenarnya baba ingin berhenti, tapi warga disini sudah menjadi bergantung pada baba, baba tidak menetapkan bunga pinjaman nak, warga memberi itu karena hutang budi nak, karena sawah, ladang atau perkebunan mereka bisa tergarap. Nak maafkan baba, apa begitu marahnya kamu sehingga tidak sudi lagi menginjakkan kaki di rumah ini, apa perkataan baba sungguh membuatmu dendam. Baba diliputi amarah nak, baba menyayangimu. Kudengar dari Sarah tanggal 5 Oktober tujuh tahun lalu lahir Topan. Cucuku. Sarah mengabari setiap dua tiga minggu sekali tentang perkembanganmu nak, baba bangga denganmu dengan bisnis kontruksimu  yang berkembang pesat di Jakarta. Dengan hasil keringatmu sendiri nak. Tangan baba linu untuk melanjutkan surat ini. Babaa, begitu pengecut, takut gengsi untuk menemuimu atau sekadar meneleponmu.

Baba,

Asap dupa berkibar kibar. Menari-nari membumbung di udara. Airmata dan eranganku tidak tertahankan lagi. /im