Aku ingin menulis tentang kisahku. Tentang skenario Tuhan yang begitu indah hingga aku tak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentang kita, iya, aku, ayah dan mereka. Tentang Ayah yang kini hidup tanpa Bunda. Tentang ayah yang pada akhirnya memilih untuk mengakhiri kesendirian dan menikah lagi. Kini aku merasa sepi. Tidak ada Bunda, dan kasih sayang Ayah bukan lagi hanya untukku. Tapi juga untuk dia Ibu baruku, dan Dewi anaknya.

Ayah tidak memberitahuku tentang pernikahan itu. Aku tak mengapa. Ayah tidak menengokku di asrama setiap minggu. Aku juga tak mengapa. Ayah tidak mengajakku ke taman lagi setiap libur kantor. Aku juga tak mengapa. Aku akan berusaha mengerti Ayah. Dan mengganti semua pemikiran negatif ini dengan kata-kata “mungkin”. Iya. Mungkin Ayah sedang sibuk banyak kerjaan. Mungkin Ayah sedang merindukkanku dalam diam. Mungkin Ayah juga merasakan apa yang aku rasa. Mungkin Ayah akan datang besok. Mungkin lain kali. Dan mungkin lusa. Mungkin dan mungkin. Iyakan yah…?

Hingga pada waktu pengambilan rapor akhir semester. Aku mencoba menelpon ayah. Karena aku sudah tahu Ayah akan datang kali ini dan senang melihat nilaiku yang bagus. Terbayang senyum terpasang di wajah Ayah. Sambil melambungkan aku ke atas dan berputar sambil berucap “Ini baru anak Ayah”. Ayah tahu aku sudah belajar keras untuk ini. Aku ingin Ayah bangga punya aku di dunia ini. Aku ingin perjuangan Ayah mencari uang untuk aku bersekolah terbayar dengan kemampuan yang kumiliki.

“Ayah… besok senin pengambilan rapor lho… Ayah datang kan?”

“Sayang, biar Mamamu saja ya. Ayah Senin masih nugas.”

“Gitu ya?..”

“Maaf ya Sayang..”

“Okay…”. Aku segera menutup telepon.

Pada akhirnya aku mengambil raporku sendiri. Karena Mama harus ngambil rapor Dewi. Ini sudah kali ke dua Ayah menolak permintaanku mengambil rapor. Sampai nilai ujianku keluar pun Ayah begitu memasrahkan semuanya kepadaku.

Aku akan segera membuang praduga jelek ini. Ayah tetap supermanku . Ayah tetap supermanku. Aku rindu, Ayah. Sangaaaat rindu. Nanti kalau kita bertemu aku akan bertanya duluan. Begini “Ayah,, (jeda) apakah Ayah masih Supermanku?”. Lalu pasti Ayah menjawab “Pasti”. “Tapi kenapa aku merasa Superman sudah terbang jauh dariku”. “Aku sangat merindukan Superman membawaku terbang bersama.”

-Pelangi Jingga-