Hari mulai siang ketika kusambangi salah satu toko batik di Jalan Nagasari, Cipedes, Tasikmalaya. Di toko yang berukuran sedang serta menyatu dengan rumah tersebut, kulihat ragam batik berjejer rapi terbungkus plastik dan tergantung indah rupa warna. Di toko ini pula, warisan budaya yang tak ternilai harganya ini dilukis dengan motif-motif yang beragam dan menjadi entitas yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Sedikit termangu melihat ragam batik, aku pun kemudian memutuskan untuk menengok kedalamnya. Dari dalam, ragam batik tersebut terlihat lebih indah dan berwarna. Setelah masuk, kulihat wanita paruh baya dengan penampilan sederhana menghampiri dan menyambutku penuh keramahan menggunakan Bahasa Sunda yang halus.

Mangga, manawi aya peryogi kumaha (Silahkan, ada yang bisa dibantu)?” ujarnya.

Tanpa berlama-lama, aku mulai memperkenalkan diri dan bermaksud menyambanginya. Meski sebenarnya hal ini telah aku konfirmasi terlebih dahulu melalui pesan singkat WhatsApp, tetapi mungkin karena banyak pengunjung, hal tersebut terlupakan olehnya dengan mudah.

Oh muhun anu kamari atos janjian nya? Abdi Yuyun Sri Wahyuni (Oh iyah yang kemarin sudah janjian ya? Saya Yuyun Sri Wahyuni),” ungkap dia mengenalkan balik namanya.

Integrated Farming: Pembaruan yang Menjanjikan

Tidak lama setelah perkenalan singkat itu, dia bercerita perihal usaha batiknya  yang dapat bertahan hingga lebih dari 20 tahun tersebut.

Pada mulanya, dia menceritakan bahwa usaha batiknya mulai dirintis sekitar tahun 1970 oleh ibunya di jongko pasar Singaparna. Peminatnya pun masih sangat minim karena di tahun tersebut, batik masih dianggap kuno dan tidak mencerminkan suatu kemewahan.

Tahun demi tahun berganti, konsumennya pun tidak bisa dibilang banyak. Namun, dia menganggap bahwa dengan tetap berjualan batik, selain bisa ikut melestarikan budaya, dia juga sedikit dapat mengisi waktu luang serta untuk membantu penghasilan suami.

Ada hikmah besar dibalik klaim “batik milik Malaysia”

Sekitar tahun 2003-2004, media massa riuh dengan berita bahwa batik merupakan milik Malaysia dan hasil cipta karya budayanya. Klaim yang tidak berdasar itu akhirnya memancing amarah besar rakyat Indonesia.

Demi melakukan kontra narasi dan menjaga budayanya, beragam cara dilakukan seperti mengenalkan kembali batik hingga mempublikasikanya melalui pembukaan usaha batik.

Selain itu, meski jaraknya terpaut sangat jauh, akhirnya pada tahun 2008 pemerintah Indonesia pun ikut mengambil peran dalam memperkenalkan batik dengan mendaftarkan batik sebagai warisan budaya Indonesia dan berhasil diakui oleh UNESCO.

Kasus klaim batik inipun menurut Yuyun adalah jalan pembuka yang manis untuk usahanya. Karena baginya, selepas klaim tersebut, batik benar-benar digemari oleh banyak kalangan termasuk para pelancong dari luar negeri.

Bahkan, dia sampai berpindah tempat jualan yang awalnya di pasar jongko ke rumahnya. Bukan saja karena ingin menghemat waktu, tapi karena permintaan yang kian membludak kala itu.

“Kebutuhan semakin banyak serta waktu berkurang. Batik juga kala itu banyak sekali yang mencari,” jelasnya.

Demi memiliki ciri khas akan toko batiknya, dia berinisiatif untuk menjual batik asli Tasik. Batik Tasik sendiri memiliki motif yang indah seperti motif payung, sekar jagat, sapu jagat dan daun pepaya. Motif-motif tersebut terinspirasi dari flora dan fauna yang dominan ada di daerah Tasikmalaya.

Perjalanan ke Magelang Utara: Pembelajaran Daring di SDN Ketunggeng 1 dan Sepotong Kisah Seorang Pendidik

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa produksi batik miliknya kini dapat menghasilkan 4 jenis batik diantaranya adalah batik cap, batik cap kombinasi tulis, batik tulis, serta batik printing.

Dari hari ke hari, tahun ke tahun, dia mengakui bahwa dengan empat jenis tersebut, perkembangan batik di Tasik semakin melejit. Bahkan, dia juga mengatakan meski belum memiliki cabang di daerah lainnya, namun dia telah memiliki empat supplier khusus yang hanya menjual kain batiknya.

“Untuk cabang belum, tapi untuk supplier sudah ada empat tempat. Jadi, untuk kerjasamanya mereka yang punya tempat tapi ibu yang menjual bahannya,” ungkapnya

Optimisme akan perkembangan batik Tasik kedepannya

Hari semakin siang, matahari pun kian terik. Meski begitu, tidak menghentikan semangatnya dalam membagikan kisah.

Diujung ceritanya dia begitu berharap, meski Pemerintah Kota Tasikmalaya sekarang telah sedikit demi sedikit mulai mempromosikan batik Tasik melalui pameran-pameran yang mengundang banyak pendatang, dia berharap lebih bahwa peran tersebut jangan luntur dan hanya dilakukan ketika produk ini tengah naik daun saja.

Lebih dari itu, Yuyun pun optimis bahwa batik Tasik pasti akan dikenal lebih luas bahkan hingga ke mancanegara.

“Dengan peluang batik Tasik seperti sekarang ini, pasti akan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan saya sangat optimis bahwa Batik Tasik bisa go international karena semakin beragamnya permintaan dari negara lain,” pungkas Yuyun mengakhiri.

Penulis : Silmi

Editor    : Teguh