Joseito dan Tiga Konsep ‘Harmoni’ Jepang

Judul               : Gadis Remaja Sebuah Cerita

Penulis             : Osamu Dazai

Penerjemaah    : Bagus Dwi Hananto

Penerbit           : Rua Aksara

Cetakan           : Cetakan Pertama Oktober 2021

Tebal               : x+84 halaman

ISBN               : 978-623-6650-37-0

Saat melihat sampul depan novela karya Dazai ini, saya seperti melihat lukisan pada tembok semen yang belum dihaluskan. Pada lukisan itu terdapat gambar setengah wajah perempuan dengan rambut panjang yang terurai, seolah sedang tertiup angin.

Tatapan mata perempuan tersebut sedang melihat ke samping atas, melihat seekor capung seukuran kepala yang sedang terbang. Capung yang saat terbang aelalu mengeluarkan suara bising.

Gambar tersebut kemudian diwarnai dengan warna-warna yang tidak kuat, membuat saya merasakan kesan yang sendu. Apabila keseluruhan gambar dan unsur warna tersebut saya hubungkan dengan judul novela ini yaitu “Gadis Remaja Sebuah Cerita”, maka saya akan berkesimpulan Dazai sedang mengisahkan kehidupan seorang perempuan muda yang murung.

Novela ini dibukukan dalam bentuk yang kecil. Total halaman keseluruhan tidak mencapai seratus halaman. Jadi, novela ini dapat dibawa ke mana-mana, tidak akan mengganggu ruang isi tas, dan dapat diselesaikan dalam sekali duduk.

Judul novela ini dalam bahasa Jepangnya adalah Joseito, berkisah tentang keseharian si tokoh utama; seorang perempuan muda berumur 14 tahun yang masih duduk di sekolah menengah.

Tokoh utama memiliki perangai yang baik di lingkungan sosial, cerdas, santun, dan selalu tersenyum. Karena itu, dia tidak mempunyai masalah dalam bermasyarakat di sekitar lingkungannya.

Tetapi ketika sedang sendiri dan melakukan perenungan pribadi, perempuan ini bersifat sebaliknya. Emosi kepada setiap hal, selalu mengkritisi diri sendiri secara ekstrim, membenci kedewasaan, rasa sinis terhadap orang lain, dan beragam gerumul pemikiran murung lainnya.

Si tokoh utama sadar akan hal ini, sebagaimana bisa kita terka dalam salah satu bagian dalam novela berikut ini:

“Aku tak tahu mana lebih baik: membedakan dengan terang-terangan diriku di masyarakat dengan diriku sebenarnya lalu mengatasi segala persoalan dengan cara yang metodik, memasang tampang ceria–atau senantiasa berpijak pada kedirian, walaupun jika orang mengolokmu, tak menyembunyikan dirimu yang sesungguhnya.” (halaman 59).

Konflik batin atau kontradiksi yang terjadi pada tokoh utama juga sering dijumpai di lingkungan sekitar kita.

Beberapa orang menganggap itu sebuah kewajaran dalam bermasyarakat. Tetapi ada juga yang menganggap hal itu suatu hal yang keliru, karena beralasan bahwa ketidak-terus-terangan dalam bermasyarakat sama saja perbuatan munafik.

Bagaimanapun sikap jujur dan apa adanya harus seseorang tampilkan dalam situasi apa pun. Perihal diterima atau ditolak oleh masyarakat ialah sebuah konsekuensi.

Apabila ditinjau dengan sudut pandang budaya, maka dapat diartikan kontradiksi yang dirasakan oleh tokoh utama adalah penggambaran dari konsep budaya yang berasal dari Jepang yaitu tatemae dan honne.

Menurut Nilamsari & Nugroho yang dikutip dalam sebuah jurnal (Rima Devi, dkk 2021), tatemae ialah berperilaku sopan dan menjaga diri saat berada di luar rumah. Hal itu dilakukan karena di luar rumah kita berjumpa orang banyak dan tentunya harus terlihat baik.

Sedangkan honne adalah kebalikannya, yaitu bersikap apa saja dengan syarat dilakukan sendirian dan sedang berada di rumah. Honne sama saja dengan pengekpresian dari hati nurani seseorang yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Pada novela ini, banyak penggambaran-penggambaran tentang tatemae dan honne. Berikut saya cukilkan sebuah kutipan sebagai contoh penggambaran tatemae dan honne dari novela ini:

“Kusapa semua orang dan bergegas ke sumur mencuci tangan lalu melepas stoking dan mencuci kaki, dan pada waktu sedang membersihkan diri, penjual ikan tiba dan meminta maaf baru tiba sekarang, semoga tak bosan-bosannya kami berlangganan ikan kepadanya, seraya mengucapkan terima kasih.” (halaman 44).

Dari cukilan kutipan di atas, terdapat tatemae dan honne yang dilakukan oleh si tokoh utama dalam waktu yang bersamaan. Tepatnya, ketika hendak mencuci kaki di belakang, setelah menyapa tamu yang berkunjung, tiba-tiba pengantar ikan langganannya datang.

Pengantar ikan kembali datang terlambat dan meminta maaf atas keterlamabatannya kepada si tokoh utama. Tokoh utama membalasnya ucapan terima kasih (tatemae). Namun, dalam hatinya ia berkeluh semoga ia dapat memaafkan dan tetap berlangganan ikan pada pedagang ikan yang sering terlambat itu (honne).

Novela ini juga menerangkan pada kita bahwa penulisnya, Ozamu Dazai, mengetahui tatemae dan honne dan memiliki penilaian sendiri terhadap konsep budaya ini. Dalam pemikirannya, Dazai (Rima Devi, dkk 2021) ingin menyamakan nilai-nilai pribadinya dengan nilai-nilai kemasyarakatan waktu itu.

Namun, semakin lama, ia menyadari itu mustahil dan ia memilih berdamai dengan menerapkan tatemae dan honne seperti masyarakat umumnya. Alasan lain yang membuat Dazai berdamai adalah pengetahuannya tentang konsep pandangan hidup dari ajaran Zen, yang bernama Wabi Sabi. Konsep itu menerangkan bahwa hidup ini penuh dengan ketidaksempurnaan yang memiliki keindahan.

Konsep wabi sabi ini dikemukakan Dazai ketika si tokoh utama berpikir lebih baik di penjara atau menjadi istri dari seorang laki-laki:

Kalau kau memutuskan mendedikasikan diri kepada seorang selama sisa umurmu, tak peduli sebesar apa upayamu dan semenderita apa hidup yang kau jalani, ujung-ujungnya kau pasti merasa hidupmu berharga buat dijalani, bahwa terselip harapan di balik derita.” (halaman 60).

Ketiga konsep budaya ini yang membuat masyarakat Jepang selalu berada dalam keharmonisan, yang kemudian dalam situasi harmoni maka perkembangan negara pun dapat meningkat.

Tidak mengherankan jika setelah perang dunia kedua, Jepang, yang juga salah satu pihak yang kalah dan terpuruk, mampu bangkit dan menjadi salah satu negara maju di Asia juga dunia. Harmoni yang tercipta mampu menekan konflik yang terjadi antarmasyarakat dan misi-misi pembangunan negara pascaperang dapat tercapai.

Meskipun bagi seorang yang berpikiran sadar, ketiga konsep ini membutuhkan kerelaan ataupun pengorbanan yang tidak bisa kita bilang kecil dan sepele.

Sumber:

Devi, R., Hasibuan, A., & Ferdinal. (2021).  Refleksi wabi sabi dalam novel Joseito karya Dazai Osamu. Lingua Budaya, 15(2), 167- 173. https:// doi.org/10.21512/Ic.v15i2.7004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *