Oleh : Teguh Iman Perdana

“Ah Enyak norak, ini tuh bukan menor, tapi sensual,” ujar Atun.

Itulah sepenggal percakapan atun dalam serial Si Doel Anak Sekolahan pada emaknya. Percakapan itu megingatkan kita pada tren saat ini yang begitu digandrungi oleh wanita, ya, make-up. Di era milenial seperti sekarang, tren itu semakin menguat, terutama di kalangan wanita. Mereka seolah berlomba memoles wajahnya dengan berbagai jenis alat kecantikan dengan tujuan supaya terlihat lebih cantik dan menawan.

Menjamurnya beauty vlogger, toko kecantikan, dan produk luar negeri yang membanjiri pasaran, menjadi salah satu faktor mengapa tren ini terus berkembang dan menarik banyak khalayak. Tren kecantikan seolah tak pernah usai digilas waktu, bahkan beragam inovasi terus berkembang demi memenuhi keinginan pasar. Tidak hanya wanita, bahkan beberapa pria juga ada yang memiliki perlengkapan kosmetik meski jumlahnya relatif lebih sedikit.

Data dari Statista menunjukan bahwa pendapatan dari industri kosmetik tahun 2018 mencapai 5,501 miliar dollar AS. Riset pasar bulan Agustus yang dikeluarkan oleh Zap Beauty Index menunjukan bahwa setiap bulan perempuan Indonesia mengeluarkan sedikitnya 20% per bulan untuk membeli produk fesyen dan kecantikan.

Bahkan dalam satu kesempatan pameran kecantikan di Asia Tenggara, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti bertutur,”Don’t make it unparticial to be beauty”. Hal ini menunjukkan bahwa tren ini digandrungi oleh semua kalangan, baik rakyat biasa juga pejabat pemerintahan. Apa lagi di zaman modern seperti sekarang ini, dimana setiap orang bisa melakukan perawatan diri kapan saja dan di mana saja, tidak harus di salon.

Bahkan, sangking menjanjikanya bisnis ini, perusahaan raksasa global, Unilever, rela menggelontorkan dana super jumbo sekitar 2,7 miliar Dollar AS untuk membeli perusahaan Carver Korea Co yang memproduksi merek AHC Skin Care. Alasannya tentu tidak terlepas dari keuntungan K-Beauty yang mencapai 6,3 miliar Dollar tahun ini (riset Euromonitor, tirto.id)

Dalam kesempatan ini, kami menghubungi beberapa orang perempuan untuk dijadikan sebagai narasumber, mulai dari pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai Mahasiswa. Mereka menganggap selain agar selalu fresh dan upaya menghargai diri sendiri, riasan wajah juga membuat kepercayaan diri mereka meningkat, terkait hal ini, faktor pergaulan begitu mempengaruhi.

Anissa, mahasiswa Pendidikan Agama Islam di salah satu Universitas Swasta di Yogyakarta membeberkan ikhwal riasan wajah yang dilakukanya ketika akan berangkat kuliah. “Ya kalau aku ke kampus sih paling cuma lip tint sama bedak sedikit, aku sih nggak ribet ya, terus kalau buat perawatan ya paling di rumah, pakai masker, harga masker sih palingan 28.000 itu juga stok buat satu bulan, hahaha,” ujar Anissa.

Lain Anissa, lain juga Fauzia, pelajar SMA ini lebih memilih ke sekolah tanpa make up. “Aku kalau ke sekolah enggak pernah pakai apa-apa, lebih suka natural, niatnya juga kan sekolah. Kalau soal perawatan sih simpel aja, paling pakai vitamin buat bibir, kalau muka ya paling pakai masker organik tergantung kondisi dari muka,” ujar Fauzia. Baginya, tidak ada budjet khusus tiap bulannya untuk membeli peralatan kecantikanya.

Sama halnya dengan Yayang Salsabila, mahasiswi Administrasi Negara di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat menyebut bahwa tidak ada polesan khusus baginya ketika berangkat ke kampus. ”Ya paling pakai maskara, lip tint sama bedak aja sih, untuk perawatan juga lebih suka dilakukan di rumah, pakai lidah buaya sama masker dan kalau untuk budjet sih enggak nentu ya tiap bulanya,” ungkap Salsabila.

Pandangan Hijabers Menyikapi Tren Make-Up

Islam sebagai agama dengan jumlah pemeluk paling banyak di Indonesia begitu mendominasi semua sektor kehidupan, termasuk make-up. Kita tentu masih ingat ketika label halal mulai dipakai produk-produk kecantikan sebagai alat promosi. Hal ini cukup ampuh untuk mempengaruhi psikologis konsumen, yaitu para wanita muslim yang jumlahnya sangat banyak. Sebuah lahan basah bagi industri produk kecantikan.

Melalui pesan Whatsapp kami mewancarai Sarah, seorang hijaber sekaligus mahasiswi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi UNY. “Bagi aku sih yang make-up itu ya boleh-boleh saja, asal diatur penggunaannya dan untuk apa tujuannya,” ujar Sarah mengungkapkan pandangannya terkait penggunaan make-up.

Bagi Sarah, make-up sangat bermanfaat ketika ia terjun ke dalam dunia kerja, mengingat jurusan kuliah yang digeluti mengharuskannya bertemu dengan banyak orang. “Karena jurusan kuliah yang mengharuskan berkomunikasi dengan banyak orang, mau tidak mau harus merias diri, walaupun diusahakan sampai tidak terihat, karena kan harusnya dandan itu hanya untuk suami, hahaha,” celoteh Sarah.

Sarah juga menambahkan, bahwa banyak hal yang harus diperhatikan dalam merias diri, salah satunya adalah bagaimana agar make-up dan wewangian yang dipakai tidak sampai merangsang syahwat laki-laki. Ketika menemui teman atau orang dekat yang berlebihan dalam merias diri, menurut Sarah seorang muslimah harus mengingatkannya.

“Ya kalau menurut aku sih wajib buat mengingatkanya, kan wajib saling mengingatkan dalam kebaikan, namun kita juga tidak boleh men-judge dan memberitahunya secara keras, kita kan dijakarkan welas asih dalam agama, jadi mengingatkannya dengan welas asih aja, karena aku sendiri juga belum bisa untuk meninggalkan yang namanya make-up, jadi saling mengingatkan saja,” tambahnya.

Flawless dan Gaya Korea Jadi Favorit

Anjel Siahaan, mahasiswi Tata Rias UNY mengungkapkan bahwa tren make-up yan saat ini paling digandrungi kaula muda adalah model flawless dan tren ala Korea. Selain karena pengaruh drama Korea, dengan gaya make-up ini akan membuat seorang wanita lebih menawan tanpa terlihat polesan wajahnya, atau tidak menor. “Untuk saat ini sih ya, yang sangat digemari itu khususnya remaja ya tetap tren make-up ala-ala Korea, apalagi yang sangat suka drama Korea, kalau enggak ya tren make-up flawless, biar kelihatan natural,” ujar Anjel.

Meski harus melalui sepuluh tahap Korean skin care dengan kocek besar agar terlihat seperti wanita Korea, tetap saja tren ini sangat digandrungi kaula muda. Bahkan dari catatan lembaga riset pasar saja menyebut bahwa pertumbuhan produk perawatan kulit asal Korea tumbuh sampai 5,8 persen sejak tahun 2013, mengalahkan Amerika dengan angka pertumbuhan hanya 3,9 persen. Bahkan hampir 90 persen produk kosmetik skin care di Indonesia berasal dari negeri Ginseng tersebut.

Meski demikian, Anjel mengatakan bahwa secantik apapun hasil make-up, standar kecantikan bagi wanita yang paling utama adalah sikap dan tutur kata yang baik. “Perempuan sekarang pada umumnya ingin terlihat lebih putih, cantik, dan langsing. Ya seenggaknya itu yang bisa membuat kami para ukhty-ukhty tampil percaya diri dan terlihat modis dengan fesyen yang sedang hits,” tambah Anjel.

Selain agar terlihat cantik dan menawan, merias dan melakukan perawatan kecantikan juga merupakan bentuk upaya menghargai anugerah Tuhan, sehingga selagi memiliki kemampuan tidak ada salahnya merawatnya sebaik mungkin. [Teguh Iman P]