Sebuah cerita harus dikatakan. 

Sebuah cerita harus didengar.

 Sebuah cerita harus dituliskan.

 Bila dicermati, entah kebetulan atau tidak, media kini intens mengungkap kebobrokan birokrasi negeri ini. Birokrasi yang notabene sangat dekat dengan pusat-pusat kekuasaan. Inilah ironi kebangsaan yang terjadi, dimana yang dekat pun berantakan, lalu bagaimana di tapal batas sana yang jauh dari pusat-pusat kekuasaan. Disaat negara tetangga merongrong kedaulatan, penentu kebijakan dan pemerintah malah sibuk pada urusan individu, serta masalah internal bodoh ini. Akhirnya tapal batas pun tak diperhatikan, yang celakanya berpotensi hilang dari genggaman.

Jadilah raut muka kegelisaahan saat kenyataan itu dimunculkan oleh film “cerita dari tapal batas”. Permasalahan sosial diperbatasan ternyata lebih kompleks dan ruwet. Terdapat dua bagian, pertama, sebabnya kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan pokok. Sebut saja pendidikan dan kesehatan. Dimana di Entikong, Palapasang, Suruh Tembawang sana benar-benar nihil minimum. Karena infrastruktur dan sistemnya memang tidak ada. Kedua akibat, yaitu masyarakat disana terpaksa atau tidak, harus condong ke Malaysia, yang lebih memberi harapan ketimbang negaranya sendiri. Jadi, mereka tidak mengenal bangsanya, sekolah, berdagang dan mata uang Malaysia. Itu dilakukan karena tidak ada pilihan lain.

Resiko terburuk hilangnya nasionalisme bangsa, sehingga memungkinkan terjadi eksodus. Yang dimasa depan dapat memicu disintegrasi bangsa. Karena tanah yang mereka tinggalkan itu, adalah tanah leluhur, untuk nanti direbut kembali. Lalu disaat bersamaan personal-personal itu bukan lagi NKRI. Perlukah kita mengecap mereka penghianat bangsa. Atau inilah ironi sebenarnya bahwa hidup adalah pilihan.

Namun, dibalik kegetiran itu muncul malaikat-malaikat Tuhan, yang diwujudkan pada sosok ibu guru Martini dan mantri Kusnadi. Dedikasinya tidak ternilai, disaat manusia-manusia sibuk dengan hartanya, Martini malah sibuk mengajarkan nasionalisme, mata uang rupiah, lagu Indonesia Raya, dan Pancasila. Martini berjuang dengan peranan sebagai guru, kepala sekolah sekaligus penjaga sekolah.

Lalu, mantri Kusnadi berjalan puluhan kilometer untuk mengobati orang sakit, memberi obat, sekaligus memberi pengertian tentang kebangsaan. Menjadi martir di wilayah terpencil jelas bukan pilihan banyak orang. Nampak jelas Tuhan masih sayang pada negara ini, lewat sosok malaikat berwujud manusia. Ada lagi liputan dari Andy Noya, tentang kolaborasi antara relawan, tentara, dan masyarakat setempat lewat program pemberdayaan. Jadilah rumah Rajawali yang mampu menawarkan solusi bagi terselenggaranya pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat perbatasan.

Bila diselidik pemerintah ada di hierarki teratas untuk mampu mengatasi problematika tapal batas. Karena kemampuan dan kebijakan ada ditangan pemerintah sendiri, yang bila dilihat realitanya belum melakukan tugas sebagaimana mestinya. Lalu generasi muda yang esok menggantikan generasi tua, sudah harus memiliki pola pikir terbuka, paham akan kenyataan kini, dan harapaannya peka terhadap permasalahan sosial. Apa pun itu layaklah kita optimis, terhadap nasib ketahanan nasional di perbatasan bila melihat perjuangan Martini dan Kusnadi, serta relawan, tentara, masyarakat setempat yang masih semangat dan bangga akan NKRI.

Kuncinya ialah pemerataan, dimana pendidikan dan kesehatan begitu mahal, karena tidak mungkin dalam waktu lama mengandalkan keihlasan dari orang-orang macam Ibu Martini dan mantri Kusnadi. Sikap menghargai pada bangsa ini juga penting, diperlukan sikap berbesar hati dan sifat anti matrialistik, bagi generasi muda. Jadi perlu tekad bersama, berdoa dan berhadap pada Tuhan adalah jalan paling bijak kini.

Oleh Farchan Riyadi