“Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri dimana semua orang sama di depan Hukum. Tidak seperti di Hindia (Indonesia) ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan,” Pramoedya Ananta Toer – Jejak Langkah.

 Kemerdekaan diterjemahkan oleh persiden pertama RI, Ir. Soekarno dengan semboyan berdiri di kaki sendiri (berdikari). Konsepsi itulah yang dipegang teguh oleh bangsa Indonesia saat awal kemerdekaan. Konsep yang diangkat untuk memberi semangat bagi rakyat dalam mengisi kemerdekaan. Konon, itu cerminan harga diri sebagai bangsa besar nusantara, menggelegar dan sekaligus sumbangsih serta inspirasi bagi dunia akan konsepsi. Dunia akan standing applause dengan apa yang disebut berdikari, pancasila, trisakti, hingga nasakom .

Namun, pada perkembangan kekinian, Indonesia kian terjebak dalam neoliberalisme, yang menjauhkan diri dari konsepsi awal pendiri bangsa (the founding father) untuk mengantarkan Indonesia pada sosialisme lewat idiologi Pancasila. Contoh, jelas ketika kita tidak lagi berdikari adalah saat hari ini, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) merosot tajam, dibanding perdagangan regional lainnya. Bila investor asing pun mau, untuk menarik seluruh modalnya, bakal runtuh perekonomian makro di negeri ini. Itulah efek dari apa yang disebut perdagangan bebas kebablas ala neoliberalisme. Neoliberalisme mengacu pada filosofi pasar bebas dengan menghilangkan batas-batas negara. Sehingga semua negara dapat memperoleh keuntungan di negara manapun sebagai bentuk investasi. Apabila dukungan pemerintah kurang terhadap investor lokal, dapat berakibat negara tersebut akan dikuasai asing. Secara harfiah neoliberalisme adalah kolonialisme model baru, yang mengatasnamakan modernisasi serta daya saing global, di era globalisasi.

Negeri nusantara tempat komoditi pangan dunia tumbuh, dengan tanah yang subur, tempat padi terhampar, dengan samudra yang luas. Tetapi, kini tak terhitung berapa komoditi pangan yang diimpor, malah kini tergantung dengan beberapa komoditas impor. Parahnya harga naik turun, spekulatif tanpa kendali. Ini apa, sudah jauhkah dari kata berdikari. Atau malah kian menikmati kembali, terjerumusnya bangsa ini kepada karakter terjajah dalam bentuk kolonialisme model baru.

Terjadilah, terjebaklah kini dengan apa yang disebut pejuang penikmat kemerdekaan. Untuk belajar mengeksploitasi, menghabisi seluruh sumber daya alam, serta atas anugrah kemerdekaan. Bahkan celakanya, bila belajar dari anekdot Sentilan-Sentilun, dahulu untuk jadi pejabat harus dipenjara dan diasingkan terlebih dahulu. Tetapi kini jadi pejabat terlebih dahulu, kemudian baru masuk penjara. Inilah mental-mental pejuang penikmat kemerdekaan. Seenaknya menjual bangsa, untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Negara ini lupa, pada apa telah diperjuangkan, diinisiasi, dirintis lewat jiwa sosial tanpa batas, dan tanpa berharap atas materi. Perjuangan yang tergambar jelas oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Jejak Langkah. Apa yang disebut cerita perjuangan dan perlawanan kuam intelektual pada pemerintahan Hindia Belanda. Atau apa yang disebut perlawanan tanpa senjata.

 Kita perlulah kembali untuk belajar mengenal Indonesia. Dimana momen kemerdekaan ini, dipakai untuk bersyukur pada apa yang diberikan Tuhan pada bangsa ini. Ketika konsepsi dan selogan tak mampu lagi menggetarkan hati rakyatnya. Maka ingatlah dengan apa yang telah lama kita lupakan, akan alam semesta nusantara yang kaya ini. Perlulah kiranya kita giatkan kembali organisasi mahasiswa, karena inilah salah satu instrumen untuk mengenalkan kita (mahasiswa) pada bangsanya dari dekat. “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada selogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi (kemunafikan) dan selogan-selogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau Ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung,” Soe Hok Gie – Catatan Seorang Demonstran.

 Oleh : Farchan Riyadi