Jawaban Setiap Generasi

Lepas dari apa yang telah diperbuat mereka, perjuangan Sarekat Islam Semarang di bawah Samaoen, merupakan lembaran-lembaran yang paling indah dan agung dalam sejarah Indonesia, sejarah Asia dan Dunia,

Soe Hok Gie – Di Bawah Lentera Merah.

Masa Yunani 450 SM. Saat itu Athena-Yunani, menjadi pusat kebudayaan dunia. Ketika itu demokrasi tengah berkembang sangat pesat. Efek yang membuat masyarakat Athena berpikir perlu untuk belajar sesuatu agar berpendidikan, sehingga mampu berpidato serta berpartisipasi menjadi bagian dari demokrasi.

Fenomena sosial itu memunculkan terminologi Sophis. Jostein Gaarder dalam bukunya menyebut Sophis sebagai orang yang bijaksana dan berpengetahuan. Kaum Sophis hidup dari mengajar para masyarakat Athena guna mendapat imbalan uang. Namun, hal itu bertentangan dengan idealisme Socrates, bahwa mengajar bukan untuk mendapatkan uang. Socrates menyebut dirinya filosof, yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan.

Kini, kaum Sophis diwakili oleh para pendidik di banyak institusi pendidikan. Terdengar naif di tengah jaman yang makin materialistis. Tetapi itulah kenyataannya bila melihat sebagian pendidik di negeri ini. J Sumardianta seorang guru, lewat bukunya mengungkapkan bagaimana guru gokil (hebat) harus bersikap. Di tengah generasi alay yang memunculkan murid-murid unyu (cerdas) yang mampu berlari kencang sekaligus multithreading, namun minim karakter.

Momentum ospek ini adalah pijakan awal, bagi generasi Uang Kuliah Tunggal (UKT). Adalah konsep yang diusung kementrian pendidikan lewat peraturan menteri No. 55 Tahun 2013 terkait pembiayaan kuliah. Yang membuat semakin sulit untuk tidak berkata bahwa ini bukan bentuk kapitalisasi dan mekanisasi pendidikan oleh pemerintah. Menjadikan pendidikan bukan lagi proses pembudayaan tetapi pem-buayaan.

Bisa dikira, sangat besar harapan pada generasi ini melihat semangat gerakan mahasiswa dulu dan kini. Mereka tentu punya jawaban atas ironi pendidikan kini, apa pun itu. Namun, kegelisahan tak kunjung hilang. Para aktivis kampus sebenarnya menyayangkan lahirnya kebijakan UKT. Karena, bila dalam hitungan matematis, investasi materi tentu harus ditebus materi. Misalnya saja organisasi mahasiswa (ormawa) sebagai wadah kerja sosial bakal sepi, ditinggal penggiatnya. Celakanya, kemampuan softskill didapat dari organisasi-organisasi macam ini.

Pramoedya Ananta Toer dengan jelas menceritakan perjuangan kaum terdidik di awal abad 19 lewat tetralogi pulau Buru. Analogi gerakan mahasiswa yang kala itu dipakai sebagai embrio gerakan kemerdekaan. Semangat yang muncul akibat pengaruh gerakan revolusi bolshevik itu terekam pula dalam buku karangan Soe Hok Gie – Di Bawah Lentera Merah. Kesejahteraan rakyat akibat kolonialisme juga memunculkan berbagai insiden, kekacauan, hingga pembrontakan-pembrontakan juga turut melatar belakangi gerakan kemerdekaan.

Lahirnya kemerdekaan di era 1945 masih teringat jelas dengan peringatan 17-an. Dan runtuhnya orde lama di medio 1965 tervisualkan pada film Gie serta buku Catatan Seorang Demonstran. Lalu, 15 tahun silam sebagian dari kita tentu menjadi saksi gerakan mahasiswa 98. Gerakan mahasiswa dan buruh yang masif tentu berbahaya dalam tanda kutip bagi penguasa, tapi manfaatnya kini dapat kita nikmati tanpa pegang bedil atau turun kejalan dengan berdarah-darah. Hal diatas tentu cuma mengingatkan, karena pilihan hidup ada di masing-masing individu.

Sementara itu, apa jawaban generasi kini, tentu bukan jawaban ciyusmi apahcemungud ea atau kasih tau nggak ya. Kira-kira lebih besar dari itu, aktif di gerakan sosial bisa jadi langkah awal. Optimis bila turut mengutip ucapan Emha Ainun Najib, bahwa 10 atau 20 tahun lagi generasi muda ini yang bakal menggantikan generasi-generasi tua, dan itu bukan pilihan tetapi kepastian.

Ini tantangan besar bagi ormawa untuk terus selalu berpikir positif. Sesungguhnya malas datang dari kemudahan, dan ketangguhan datang dari kesulitan. Karena tak akan sia-sia takdir amanah Tuhan terhadap pemimpin-pemimpin bangsa ini. Yang menurut Buya Syafii Maarif, antara hati, perbuatan dan perkataan sudah pecah kongsi.

Mau Sophis atau apapun itu, tak akan ada ketakutan. Kritik harus selalu disampaikan sebagai jawaban. Jawaban sebagai langkah awal. Serta perlu kiranya mahasiswa kependidikan kini perlu belajar apa itu kaum Shopis.

Salam Pers Mahasiswa Indonesia!

 

 Oleh Farchan Riyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *