Daerah terluar sebuah negeri adalah perbatasan yang terkadang berhubungan langsung dengan negara tetangga. Indonesia sebagai sebuah negara dengan cakupan wilayah yang sangat luas memiliki permasalahan tersendiri. Logikanya daerah perbatasan adalah wilayah yang kuat, mengapa, karena di sanalah benteng awal kedaulatan sebuah bangsa.

Inilah ironi negeri ini, perbatasan malah menjadi wilayah yang paling tidak dikenal. Berbagai masalah seperti infrastruktur, pendidikan, ekonomi, hingga ideologi kebangsaan kerap tidak diperhatikan. Hal itu tercermin dalam film dokumenter “Cerita Dari Tapal Batas”, dimana sosok bu guru Martini berjuang keras untuk turut mencerdaskan dan membangun nasionalisme meski tidak dengan imbalan yang sepadan.

Kondisinya jelas, pertama akses jalan tidak ada, penerbangan perintis pun tidak terjangkau. Kedua pendidikan sangat tidak memadai, satu sekolah satu guru, yang merangkap kepala sekolah, guru, administrasi, hingga petugas kebersihan. Ketiga akses ekonomi tidak ada, hasil bumi tidak bisa dijual, karena tidak ada pembeli. Keempat warga perbatasan hidup dari peradaban negara tetangga, sehingga dikawatirkan menggangu kesatuan Republik Indonesia.  

Jadi, wilayah perbatasan memunculkan fenomena bahwa warga negara Indonesia lebih mengenal Malaysia, bekerja dan makan dari Malaysia, hingga memakai mata uang Malaysia. Seolah pemerintah tidak melakukan apa-apa, hingga masyarakat perbatasan tidak mengenal negaranya dengan baik. Sehingga sosok bu guru Martini seperti malaikat yang turun langsung dari surga memberi pencerahan. Padahal kabinet negeri ini ada kementrian bidang daerah tertinggal, tetapi kenyatannya tidak bekerja, itulah ironi tak logis jalannya pemerintahan.

Batas negeri benar-benar tak dikenal, namun bila di visualisasikan haru pilu hati yang muncul. Sehingga solusinya pun bakal sulit diformulasikan. Bahkan negara ini yang punya kemampuan melakukan perubahan kondisi pun tidak berdaya, lalu apa arti seorang bu guru Martini. Mahasiswa generasi penerus haruskah ikut turun tangan, ikut membantu bahkan membangun. Perlukah itu semua, disaat berpendapat tentang ideologi gerakan mahasiswa pun terbata-bata. Kita perlu memulai perubahan pola pikir, lewat diskusi ini lah, karena kedepan pemangku kebijakan adalah mahasiswa kini.

Oleh karena itu perlu kiranya gerakan diskusi membahas daerah perbatasan diadakan. Dimana instrumen itulah langkah awal mengenal batas negeri. Hasil maksimal tentu tak mudah diraih, tetapi hal itu akan memunculkan konsepsi pembangunan daerah tertinggal. Agar masyarakat perbatasan yang juga saudara satu negara dapat merasakan pembangunan serta hidup dengan layak.

 Besar harapan bahwa konsepsi itu dapat terekam untuk nantinya sebagai modal menjadi sseorang penerus bangsa yang tidak hanya mampu mengolah kekayaan alam, namun mampu mengatur pemerataan kesejahteraan sesuai dengan ajaran konstitusi UUD45, perlu kiranya kita simak perjuangan bu guru Martini. Semoga Tuhan Memberkati. Amin.

Salam Persma.

 Oleh : Farchan Riyadi