Keraguan nampak muncul terhadap pergerakan sosial organisasi mahasiswa (ormawa) teknik UNY. Sikap yang harus dijawab semua pelakunya. Sudahkah personal didalammnya melaksanakan kewajiban sebagai aktivis. Penilaian tersebut didasarkan oleh berbagai sudut pandang idealisme guna selalu merintis perubahan.

Keadaan ini timbul karena gerakan mahasiswa nampaknya masih tertumpu pada progam kerja. Celakanya program itu tidak digarap secara kualitas. Sehingga, kebermanfaatan bagi lingkungannya masih terus dipertanyakan, hingga muncul formalitas dan pragmatisme peranan. Dimana, ormawa ada hanya untuk melaksananakan program kerja dengan sedikit hiburan canda tawa. Singkatnya tak memiliki idiologi gerakan yang jelas, larut dan hanyut pada hegemoni tren belaka.

Lalu, muncul tuntutan akademik, yang membuat organisasi hanya mainan belaka. Perkara sambilan yang tidak mampu berjalan seiring. Hal ini menimbulkan apatisme akut dan romansa, yang berdapak pada perspektif individu terhadap penilaian kinerja sendiri. Dapat dilihat organisasi-organisasi belum dijalankan sepenuhnya. Padahal ini sarana pengembangan diri yang nantinya akan tercermin pada tingkah laku kita saat yang muda-muda ini menggantikan generasi tua.

 Ormawa belum maksimal, dan ini realita dari penilaian secara menyeluruh. Harus dikritik, dipertanyakan dan diperhatikan. Gerakan tidak nampak, samar-samar, baik untuk mahasiswa sendiri atau buat masyarakat. Harapan besar terus disematkan, dimana ormawa bukanlah tempat latihan, tetapi sudah pada tatanan simulasi nyata. Ormawa dibentuk haruslah murni karena niatan gerakan sosial, bukan mengumpulkan sertifikat, untuk sekedar beasiswa, tetapi lebih dari itu, ialah sebuah gagasan besar.

Menyepelekan konsep gerakan ormawa adalah kian nyata, dimana mereka seenaknya keluar-masuk tanpa tujuan jelas. Ironis disaat para penggiat ormawa tidak mampu menilai diri, narsis seolah sudah mencapai segala-galanya. Bahkan dengan keyakinan, segala permasalahan akan dijawab dengan wajah ragu-ragu.

Setiap zaman tentu mahasiswa punya cara-cara sendiri, apa yang terjadi saat sumpah pemuda, jaman peralihan saat runtuhnya orde lama dan gerakan reformasi saat runtuhnya orde baru, dan sekarang 2012 tentu berbeda, dimana setiap generasi memiliki solusi dan caranya sendiri.

Perlu kiranya kami redaksi mengutip ungkapan Soe Hok Gie dalam bukunya catatan seorang demonstran, bahwa segala keputusan yang dibuat mahasiswa dalam ormawanya bertujuan tulus meski terasa pahit, tanpa memandang agama, ormas dan golongan. Jaya terus gerakan mahasiswa, salam.

  Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.” Soe Hok Gie, catatan seorang demonstran.

 Oleh : Farchan Riyadi