Panggung Hiburan Festival Layang-Layang

Panggung Hiburan Festival Layang-Layang

Yogyakarta – Sabtu, 19 Oktober 2013 lalu pemandangan di langit Pantai Glagah, Kulonprogo, Yogyakarta sedikit berbeda. Beraneka ragam layangan beterbangan menghiasinya. Layang-layang tersebut merupakan milik peserta Festival Layang-layang Tingkat Nasional 2013 yang diadakan di Pantai Glagah. Festival ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Festival ini berlangsung dengan sangat meriah.

Tak hanya keindahan layang-layang yang memikat perhatian pengunjung festival. Namun sekelompok pemuda yang tergabung dalam Angklung Kridotomo juga memiliki nilai tersendiri dihati para pengunjung.

Angklung Kridotomo merupakan sebuah grup musik tradisional yang membawakan lagu-lagu tradisional, campursari, pop, bahkan dangdut yang telah mereka aransemen ulang dengan alat musik tradisional sehingga tercipta musik yang lebih indah. Musik yang mereka bawakan bertempo cepat dan bersifat riang. Alat musik yang mereka gunakan pun sangat tradisional seperti angklung, kenthungan, gambang, dll. Namun diantara alat-alat musik tersebut ada satu alat yang cukup unik dan kreatif. Alat tersebut adalah bedug yang terbuat dari drum bekas.

 Meskipun berasal dari barang bekas, suara yang dihasilkan dari bedug tersebut terdengar sangat merdu. Grup yang berasal dari Jelagran Kulon, Yogyakarta ini beranggotakan enam orang. Diantaranya, Lulut pada kenthungan, Iwan pada gambang, Kholis pada angklung, Didit pada ketipung, Fitri pada bedug, dan Ardi pada bass sekaligus menjabat sebagai ketua grup. Angklung Kridotomo berdiri lima tahun yang lalu.

Pemain sedang memainkan alat musik tradisional

Pemain sedang memainkan alat musik tradisional

Panitia penyelenggara festival ini sengaja mengundang mereka untuk menyemarakkan suasana dan menghibur pengunjung. Penampilan para personil Angklung Kridotomo patut diacungi jempol. Kecepatan ritmik dan alunan suara alat musik yang mereka mainkan serta paduan suara para personilnya pun membuat pengunjung merasa terhibur. Semangat mereka diatas panggung pun dapat membuat pengunjung melupakan  panasnya cuaca di lapangan festival. Terutama saat mereka membawakan lagu dari Melinda – Cinta Satu Malam, terlihat beberapa pengunjung ikut menggerakkan badan mereka mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh Angklung Kridotomo.

Kostum mereka pun terlihat sangat unik. Setiap personil mengenakan blangkon, batik lurik, dan jarik yang menunjang image mereka sebagai grup musik tradisional.

Selain menghibur pengunjung, Angklung Kridotomo juga bertugas untuk mengiringi penerbangan layang-layang keangkasa dengan memainkan lagu-lagu tradisional dari daerah peserta festival yang tampil. Sebagai contoh ketika layang-layang asal Jakarta yang berbentuk ondel-ondel diterbangkan mereka pun memainkan lagu kicir-kirir. Selain itu mereka juga sering memainkan lagu Layang-Layang yang menjadi soundtrack dari Festival layang-layang ini.

Angklung Kridotomo tak hanya tampil di festival layang-layang ini, namun mereka sering mengisi acara pernikahan, seminar, festival, dan berbagai acara lainnya. “Kedepannya kami ingin terus tampil diacara pernikahan, event di hotel, seminar, dan lain-lain”, ujar Ardi selaku ketua Angklung Kridotomo.

Angklung Kridotomo sebagai grup musik tradisional juga patut diberi apresiasi tersendiri karena mereka telah berusaha melestarikan budaya bangsa dengan tampil sangat Indonesia, mulai dari alat musik, kostum, dan juga lagu-lagu yang mereka bawakan. Melalui penampilan mereka juga tersirat sebuah pesan bahwa kesenian Indonesia sangatlah indah, dan kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepantasnya mengapresiasi dan melestarikan budaya bangsa Indonesia. (mes)

Oleh : Memes