Novel berjudul Edensor merupakan novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Novel ini mengikuti jejak novel-novel sebelum­nya yang difilmkan, seperti Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Tujuan dari resensi novel ini agar pembaca bernostalgia kembali lewat peristiwa-peristiwa yang dituangkan oleh penulis.
Novel ini terdapat 5 bagian, dima­na bagian pertama mengisahkan tokoh bernama Ikal yang bertemu dengan sosok Weh. Sosok yang mengajarinya cara membaca rasi bintang, seorang yang tangguh dan menginspirasi bagi Ikal, namun kini sosok Weh telah meninggal karena keputusasaannya menghadapi penyakit yang lama dide­ritanya dan tak kunjung sembuh.
Bagian kedua mengisahkan Ikal dan Arai yang berangkat menuju Pran­cis dan keduanya mengalami kesuli­tan untuk mendapatkan asrama maha­siswa. Diungkap tingkah mereka ber­dua ketika menjahili seorang petugas penghubung mahasiswa. Petugas tersebut disuruh untuk mengucapkan namanya sendiri secara berulang-ulang, Maurent itulah namanya. Ke­mudian, bagian ketiga, berkisah ten­tang kehidupan Ikal dan Arai serta per­jalanan perkuliahan mereka di Pran­cis, sedangkan bagian keempat berce­rita tentang Ikal dan Arai yang berpe­tualang di benua Eropa-Afrika.
Pada bagian kelima, ceritanya berujung kenyataan bahwa petua­langan Ikal dan Arai adalah sebuah pertandingan dan pertaruhan dengan MVRC Manooj, Gonzales, Ninoch, Stansfield dan Townsend setelah ber-backpacker ria untuk kembali dan berjumpa di Spanyol. Ternyata peme­nangnya adalah Ikal dan Arai yang kenyataannya telah menunggu terle­bih dahulu di Kafe Nou Camp dekat official store Barcelona Football Club.
Pada akhirnya Arai harus dipu­langkan ke Indonesia karena sakitnya, dan Ikal juga harus pergi ke kota She­ffield, Inggris karena mencari Profesor Turnbull, seorang pembim­bing tesisnya yang kembali ke kam­pung halamannya karena pensiun. Disanalah Ikal menemukan kota kecil yang bernama Edensor, kota yang ter­sirat dalam suratnya A Ling, dimana Edensor bukanlah cerita belaka tetapi Ikal telah menemukannya.
Novel Edensor ini cukup inspiratif tidak kalah dengan novel-novel sebelumnya. Bercerita mengenai dua anak muda yang mengarungi dunia, perjalanan hidup keduanya, dan pengalaman para tokoh dalam novel dapat dijadikan contoh. Sehingga ce­rita dari novel ini memang pantas jika kemudian diangkat menjadi film. Mes­ki begitu, novel ini mempunyai alur cerita yang cepat dan kurang detail. Tetapi tetap ke inti ceritanya, novel ini mengandung cerita yang inspiratif. Sehingga jelas novel ini layak untuk dimiliki untuk melengkapi koleksi-koleksi karya Andrea Hirata.

oleh Muhiban Akbar S