Oleh Novia Risna D.

Judul Buku : Salju

Penulis        : Orhan Pamuk

Penerbit     : Serambi

Terbit         : September 2015

Tebal          : 676 halaman

“Kami bertiga mencintai ‘gadis berjilbab’ yang berani mengambil segala risiko demi keyakinan mereka. Tapi pers sekuler menyebut mereka ‘gadis berjilbab’, bagi kami mereka adalah gadis muslim biasa, dan apa yang mereka perbuat untuk membela keyakinan mereka memang wajib dilakukan oleh semua gadis muslim”.

Para gadis muslim harus berani mengambil risiko untuk tetap mengenakan jilbabnya. Pasalnya pihak yang berwenang melarang pemakaian jilbab di institusi-institusi pendidikan di seluruh negeri. Kasus bunuh diri di kalangan wanita juga semakin marak terjadi di tengah gencarnya kampanye menjelang pemilihan walikota di kota yang terselimuti salju ini.

Kutipan di atas merupakan ungkapan kebimbangan Necip, seorang pelajar madrasah aliyah di Kars kepada seorang wartawan sekaligus penyair, Kerim Alakusoglu (Ka). Penulis menggambarkan tokoh Ka sebagai penyair ateis yang tiba-tiba masuk ke dalam gejolak konflik yang justru erat hubungannya dengan Tuhan dan agama, serta tradisi dan politik. Seperti dalam karya sebelumnya, My Name Is Red, Orhan Pamuk kembali mengambil konteks latar Turki yang mengalami tekanan perubahan di tengah arus modernisasi antara Asia dan Eropa. Dengan karya-karyanya, peraih Nobel Sastra 2006 ini dijuluki sebagai penulis spesialis peradaban Barat-Timur.

Dalam bukunya Salju, Orhan Pamuk menggambarkan salju sebagai simbol eksotisme yang mampu mengingatkan Ka—seorang ateis—kepada Tuhan dalam perjalanannya menuju Kars, sebuah kota perbatasan di Turki. Sebelumnya, Ka baru tiba di Istanbul untuk menghadiri pemakaman ibunya setelah 12 tahun menjadi tahanan politik di Frankfurt, Jerman. Pria berusia 42 tahun ini memutuskan untuk mengunjungi Kars sebagai seorang jurnalis utusan Republican yang akan meliput pemilihan walikota Kars sekaligus menyelidiki tragedi bunuh diri di kota tersebut. Selain itu, terdapat tujuan lain yang terselip dalam hati Ka yaitu menemui seorang wanita yang dulu pernah menjadi gadis pujaannya, Ýpek Haným.

Setibanya di Kars, Ka menginap di Hotel Istana Salju milik seorang ateis bernama Turgut Bey yang merupakan ayah Ýpek Haným. Investigasinya dimulai dengan menggali informasi tentang situasi politik dan insiden bunuh diri para gadis dengan ditemani Serdar Bey, seorang pengelola koran harian lokal. Kasus yang paling menyita perhatian Ka adalah kasus bunuh diri gadis bernama Teslime, seorang siswi madrasah aliyah yang dikenal sebagai gadis berjilbab yang taat beragama.

Kedatangan Ka yang dikenal sebagai utusan koran ternama Republican membuat berbagai pihak penasaran dan ingin berdiskusi—atau negosiasi—dengan Ka. Penyelidikan ini menuntun Ka bertemu dengan berbagai karakter di kota itu, seperti Kasim Bey—seorang asisten kepala polisi Kars, Muhtar—mantan suami Ýpek yang berambisi menjadi walikota Kars, Lazuardi—orang yang oleh pers sekuler dikabarkan terlibat dalam sebuah pembunuhan, seorang seniman teater bernama Sunay Zaim, seorang pemimpin kelompok ‘gadis-gadis berjilbab’ bernama Kadife yang tak lain adalah adik Ýpek, sampai tiga orang pemuda madrasah aliyah yaitu Necip, Fazýl, dan Mesut.

Di sela-sela penyelidikannya, Ka menyempatkan diri mengatur pertemuan dengan Ýpek di Toko Kue Hidup Baru. Di tengah perbincangannya dengan Ýpek, terjadi sebuah aksi penembakan terhadap direktur Institut Pendidikan Kars, Nuri Yilmaz, yang disaksikan secara langsung oleh Ka dan Ýpek. Penembakan ini dilakukan sebagai bentuk penolakan kebijakan pelarangan memakai jilbab di madrasah aliyah. Menyusul insiden tersebut, terjadi insiden lain di Teater Nasional yaitu pementasan teater berdarah dengan unsur politik yang dipentaskan oleh Kelompok Teater Sunay Zaim.

Berbagai insiden dan konflik menggemparkan lain terus terjadi di kota yang terisolasi badai salju ini. Bahkan intaian maut semakin mendekati Ka. Namun, Pamuk membiarkan beberapa rahasia tetap menggantung, ia juga terlalu cepat ‘membunuh’ Ka.

Buku ini tentunya patut di baca bagi para pembaca yang ingin menambah banyak wawasan tentang peradaban dunia. Novel ini juga menyajikan kisah thriller politik yang mencekam. Dengan mengambil latar tempat Turki yang terletak di antara dua benua ini, kisah yang Pamuk sajikan dapat menjadi cerminan peradaban dunia.

Gaya menulis Pamuk yang banyak mengandung ‘spoiler’ ini tetap menghadirkan penasaran pada pembacanya. Ia memang tidak segan-segan memberi tahu pembaca mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Kedudukan Orhan Pamuk dalam novel ini juga membingungkan, selain menjadi narator terkadang ia juga bisa menyusup menjadi tokoh. Di awal novel ini, ia bahkan mengaku sebagai teman lama Ka.

Melalui Salju, Orhan Pamuk ingin menyampaikan pesan bahwa adanya perbedaan dalam hal apapun bukanlah alasan untuk menciptakan pertikaian yang berujung dengan saling membunuh. Karena dalam balutan salju, kehidupan yang penuh kebencian, keserakahan, dan kemarahan seolah tersingkirkan dan menjadi kehidupan indah yang mempersatukan umat manusia.