Oleh Widi Hermawan

Siapa yang tidak kenal dengan kata prestasi. Bagi seorang mahasiswa, tentunya akrab dengan kata sederhana namun banyak menjadi impian itu. Bagaimana tidak, dengan embel-embel prestasi seorang mahasiswa akan banyak meraup keuntungan, mulai dari pujian hingga perlakuan khusus dari kampus. Banyak juga yang mengimpikan fotonya dipajang di depan kampus dengan stempel mahasiswa berprestasi (mapres). Mungkin ada sensasi dan kebanggaan tersendiri jika gambar dirinya dapat dilihat oleh semua orang sembari memamerkan sebatang piala.

Tidak hanya mahasiswa, birokrat kampuspun selalu mengimbau mahasiswanya untuk berprestasi. Bahkan prestasi menjadi salah satu yang paling diprioritaskan dalam visi dan misi kampus. Tidak heran, pasalnya semakin banyak prestasi yang diraih mahasiswanya niscaya akan meningkatkan eksistensi dan citra kampus juga, dengan begitu nama birokrat kampuspun semakin bersinar. Namun yang perlu digaris bawahi di sini dan banyak menjadi pertanyaan, prestasi macam apa yang mereka inginkan.

Sebab kini makna prestasi sudah diartikan sangat sempit menjadi sebatas piala atau sekadar juara sana-sini. Mayoritas kini hanya memandang prestasi sebagai sesuatu yang menghasilkan hal yang bersifat materialistik saja, baik piala, sertifikat, piagam atau apapun yang sejenisnya. Begitupun birokrat kampus, meskipun kerap mengelak namun tingkah dan kebijakan mereka tidak bisa menutupi ketidakbijakan mereka. Misalnya saja perlakuan terhadap organisasi mahasiswa, barang siapa yang banyak memperoleh piala, niscaya ia akan mendapat pelayanan VIP dari birokrat.

Di sini muncul sebuah permasalahan, pasalnya tidak semua orang memiliki minat dan bakat yang sama, tidak semua orang juga memiliki ranah dan perioritas yang sama. Ada yang prioritasnya hanya sekadar piala, namun ada yang lebih mengutamakan kebermanfaatannya untuk masyarakat. Ada yang menekuni bidang penelitian, olahraga, pecinta alam, jurnalistik hingga kerohanian. Meskipun semua bidang tersebut bisa dilombakan, namun tidak etis rasanya jika piala menjadi fokus utamanya. Misalnya saja organisasi yang bergerak di bidang kerohanian, tidak etis jika tujuan meningkatkan iman dan taqwa mahasiswa yang mulia justru tergantikan dengan petualangan mencari piala. Begitupun dengan organisasi yang lain, misalnya yang bergerak di bidang pers atau jurnalistik mahasiswa. Fungsi dan tujuan organisasi sebagai kontrol sosial sangat tidak etis jika diubah menjadi perburuan piala, sangat naif rasanya. Begitupun organisasi-organisasi lainnya yang pastinya memiliki tujuan utama mereka berdiri. Tidak bisa seekor anjing, kucing, kambing, burung dan gajah diadu dalam kejuaraan menggonggong.

Tidak ada salahnya memang menjuarai perlombaan sana-sini, namun perlu diperhatikan juga, apakah dari piala yang didapatkan memberikan manfaat bagi orang lain? Karena sangat naif rasanya jika seorang mahasiswa hanya bekerja untuk memperkaya dirinya sendiri dengan sesuatu yang bersifat materialis. Bahkan fokus mencari piala sampai membutakan matanya terhadap isu-isu sosial di sekitar. Jika sudah seperti itu, ocehan mahasiswa sebagai agent of change hanya menjadi sebuah kemunafikan. Berburu prestasi (piala) boleh saja, namun jangan sampai menjadi tujuan utama seorang mahasiswa baik secara individu maupun organisasi. Berburu prestasi dalam makna yang sebenarnya akan lebih mulia, pasalnya selain mendapat piala juga memberikan manfaat bagi sesamanya. Karena sebaik-baik orang adalah ia yang bermanfaat untuk orang lain.