Judul Buku             : Cerita dari Digul

Penyunting             : Pramodya Ananta Toer

Penerbit                  : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Cetakan                 : November 2015

Halaman                : 319 halaman

 

 “Takut merupakan sifat alamiah manusia, tapi takut yang dipelihara akan mudah tergelincir menjadi takluk. Pada yang terakhir, kita sulit menemukan harapan.”

 

Setiap orang pastilah memiliki cita-cita. Bak benih yang ditanam dalam pot berisi tanah penuh humus. Setiap sel berkembang menjadi tunas dan terus tumbuh tinggi menjadi pohon harapan yang rindang dan kuat. Harapan selalu datang di tempat yang tak terduga,  dan kini saya temukan pada tokoh-tokoh eks Digulist.

Digul adalah tempat pembuangan dalam negeri (internerings kamp) dimana orang-orang diasingkan, dipenjarakan, terbebas dari lingkungan keluarga, sahabat, dan kekasih. Sebuah kamp yang kanan kirinya hanya ada pemandangan hutan rimba. Sementara itu, wilayah luar kamp dikuasai oleh suku-suku Papua pemenggal dan pemakan orang dikala itu.

Mereka yang dianggap “menyusahkan” pemerintahan Hindia Belanda dan terlibat atau pun bersimpati pada pemberontakan 1926-1927 tanpa putusan pengadilan, dimasukan kawasan Digul. Bagi orang buangan seperti Rustam, tinggal di Digul seperti malapetaka. Bagaimana tidak, perlakuan kasar hingga dipaksa bekerja membabat hutan untuk membuka ladang menjadi keseharian yang biasa. Sejak tahun pertama kedatangan mereka pada 1927, berbagai penyakit mulai menyerang. Disentri, beri-beri dan tiga jenis malaria hitam mulai akrab dengan tahanan. Bila air kencing sudah mulai berwarna hitam, pertanda ajal sedang menjemput.

Pramodya Ananta Toer sebagai penyunting, sepertinya tak ingin menjadikan buku ini sebagai buku politik, dia lebih memilih untuk tetap mempertahankan kisah roman sebagai inti cerita. Alur maju dan penggunaan kata yang ringan memudahkan pembaca untuk mencerna setiap kalimat. Pembaca seakan-akan diajak untuk kembali mengenang masa-masa lampau. Dimana tanah papua masih berupa hutan belukar dan dikelilingi rawa-rawa. Terasa setting tempat begitu jelas dipaparkan.

Ada 5 karya yang dimasukkan dalam buku yang menggunakan bahasa melayu ini, seperti Rustam Digulist karya Manu Turoe, Darah dan Air Mata karya Oen Bo Tik, Pandu Anak Buangan karya Abdoe’l Xarim, Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul karya Wiranta, Minggat dari Digul karya Tanpa Nama. Seharusnya ada 7 karya namun 2 tulisan tidak jadi dimasukkan karena naskah aslinya menggunakan bahasa Belanda.

Setiap karya dalam buku ini memiliki cerita dan konflik yang berbeda. Romantisme, ketegangan, komedi dan tragedi turut menghadirkan suasana baru dalam judul cerita Pandu Anak Buangan. Buku ini cocok untuk pembaca yang menyukai cerita sejarah. Intinya buku yang berlatar belakang sejarah ini mengisahkan perjuangan untuk keluar dari tempat “mengerikan” tersebut, menjadikan renungan untuk kita tentang makna kemerdekaan hidup sebagai manusia dan bangsa.