Oleh Farchan Riyadi

Pernah terbayang jika kalau uang kertas yang dipakai tidak lagi punya harga atau nilai. Sebut saja seperti yang terjadi di Zimbabwe, uang dolar-nya nggak bernilai sama sekali. Bahkan cocok untuk dijual kiloan.

Bagaimana tidak beli telur harus bawa bergepok-gepok uang kertas. Orang sana jelas tidak lagi pakai dompet, tetapi pakai karung mungkin.
Itulah uang yang digunakan berdasarkan prinsip kepercayaan, jika tidak percaya hilang nilainya. Namun jika masih dipercaya, orang akan yakin benar bila uang di dompetnya punya nilai 50 ribu ya 50 ribu, 20 ribu ya 20 ribu, atau 10 ribu ya 10 ribu. Sekali lagi orang percaya saja, bahwa uang punya nilai itu prinsip utama.

Dasar prinsip itu juga dipakai dalam kehidupan beragama, orang dikatakan taat kalau dia beriman dan bertakwa. Tetapi paling tidak dengan konsep agama, manusia bisa tahu kemana dia meminta dan berdoa, atau juga membelenggu diri agar tidak berbuat kriminal. Karena dengan takut dosa atau takut masuk neraka. Mungkin saja orang akan berpikir berkali-kali jika ingin membegal harta punya orang lain, kembali lagi hal ini harus dilandasi rasa percaya.

Percaya dapat berarti yakin benar, katakan-lah rakyat percaya dengan institusi pemerintahan. Bahwa pemerintah mampu mensejahterakan rakyat. Akibat rasa percaya itu rakyat tentu akan patuh, percaya juga tidak serta merta hadir, ada proses dan bukti. Ajaran agama saat pertama kali tersiar apakah langsung dipercaya. Lalu manusia melihat bukti, misal mukjizat yang nyata dan benar di depan mata. Itu pun belum tentu, Nabi Musa bahkan harus berkali-kali memberi bukti lewat mukjizat agar kaumnya percaya dan mengikuti perintah. Mulai dari tongkat menjadi ular, menghidupkan orang mati, membelah laut merah, menurunkan makanan langsung dari surga, juga 10 perintah Tuhan.

Apakah kehidupan saat ini normal dan orang bisa percaya satu dengan yang lain? Situasi sosial tidak mengatakan kehidupan saat ini berjalan normal. Tidak normal karena melihat banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual menimpa anak-anak dan perempuan, yang justru dilakukan orang dekat. Herannya kejadian kekerasan itu pun berurutan menghisasi media. Sulit untuk berkata bahwa kehidupan benar-benar hidup sedang normal. Rakyat di akar rumput seperti saling bunuh, nyawa seperti tidak berharga, sudah seperti itu caranya sadis pula. Membuat orang bakal paranoid tidak percaya satu dengan yang lain.

Kembali bicara percaya, lembaga yang seharusnya memberi kepercayaan justru tidak dapat dipercaya. Bahkan munculnya wacana pemimpin independen non partai politik (parpol) itu ada karena rasa tidak percaya. Menariknya undang-undang pemimpin independen justu di-acc orang parpol sendiri di gedung dewan. Menurut survei yang di gedung dewan inilah yang bermasalah dalam hal kepercayaan. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memaparkan pada januari lalu anggota dewan dapat 58,4 persen. Sementara mereka anggota dewan juga dari partai politik, dimana parpol dapat nilai 52,9 persen untuk tingkat kepercayaan. Kok bisa ya, lembaga yang harusnya jualan rasa percaya justru tidak terpercaya, ya dapat rapor merah. Yang celaka justru lembaga peradilan, bingung juga sekarang mesti percaya sama siapa. Kasus tangkap tangan baru-baru ini terjadi di lembaga peradilan tertinggi Mahkamah Agung, tidak tanggung-tanggung pejabatnya ada yang diciduk lewat Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Memiliki kepercayaan orang lain adalah sakti, lihat bagaimana KPK menjadi rujukan apakah orang itu bebas korupsi atau tidak. Bukan lagi pada BPK, sebuah badan yang seharusnya memiliki wewenang meng-audit aliran dana, sebut saja kasus sumber waras. Entah yang salah BPK-nya, atau KPK yang auditnya memang sahih.

Perihal uang coba, manusia percaya, jadi sakti pula itu barang. Uang, agama, keterwakilan, legislasi, dan peradilan, itu masalah percaya. Tetapi sulit menjelaskan jika peradilan, kerwakilan, legislasi dan agama dikaitkan dengan uang, apa masih ada rasa percaya, saya kira masih ada, bahwa percaya kalau sampai detik ini uang masih punya nilai.