Karya: Iffa

Agatha menyandarkan sisi tubuhnya di pintu kamar Vincent yang terbuka. Menatap sosok yang terbaring koma di tempat tidur dengan ekspresi terluka. Melihatnya masih dengan infus yang menempel di lengan dan alat bantu pernafasan yang diharapkan mampu membantu proses pernafasan. Hanya ada goresan-goresan di tubuh itu. Membayangkan Vincent terlihat sanggup bangun sewaktu-waktu, tersenyum, lalu terheran-heran mengapa Agatha menatapnya tanpa berkedip. Meski dokter telah menegaskan bahwa kondisi adiknya stabil dan organ dalamnya berfungsi dengan baik, adiknya itu tidak membuka mata bahkan ketika diagnosa itu sudah dibenarkan oleh lebih dari satu dokter. Agatha yakin esok hari adiknya akan sadar, namun tetap saja mata itu terpejam. Begitu juga esok harinya lagi, dan esok harinya setelah esok hari. Hal itu membuat Agatha sadar, ia akan terus melukai perasaannya sendiri dengan berharap terlalu jauh pada kesadaran Vincent. Gadis itu bahkan bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan ketika yang dapat ia lakukan hanya berharap dan itu menjadi hal yang sia-sia?

Di suatu pagi yang mendung, ketika Agatha duduk di bangku yang berada tepat di sebelah tempat tidur Vincent, gadis itu sekilas melihat tangan adiknya bergerak. Merasa seperti penglihatannya mungkin terganggu atau semacamnya, Agatha berkedip dan melihat tangan itu bergerak lagi. Ia cepat-cepat menatap wajah Vincent. Barangkali kelopak matanya terbuka, barangkali mulutnya akan mengucapkan sesuatu untuk menyapanya. Tapi tidak terjadi apapun.

Agatha bangkit dengan rasa frustasi yang menggelayuti otaknya. Ia harus menghubungi dokter untuk kejadian kecil yang berarti itu. Memastikan kejadian itu nyata atau hanya ilusi. Agatha melangkah keluar dari kamar itu sambil merogoh saku celananya, mencari ponsel untuk menelpon dokter. Sebelum akhirnya gadis itu ingat ponselnya tercebur dalam kubangan air wastafel dan sedang diperbaiki. Tidak punya pilihan lain, ia mengambil kunci mobil yang ia pinjam dari tetangganya dan berjalan cepat menuju halaman dimana mobil itu diparkir. Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarainya meluncur di jalan raya menuju rumah sakit.

Mengabaikan pandangan aneh resepsionis di lobi rumah sakit, Agatha berlari menghampiri lift, masuk dengan cepat, dan menekan tombol angka tiga.

“Dokter Sven, ini Agatha, apa kau sibuk?” Agatha berbicara melalui interkom di depan pintu kantor Mr. Sven. Dokter yang memberi jasa pelayanan pada Agatha tanpa biaya, Mr. Sven adalah rekan kerja ayahnya dulu, bertahun-tahun sebelum ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil tragis yang membuat beliau meninggal dunia dan adiknya dalam keadaan koma dan tak kunjung sadar itu.

Hening sesaat, kemudian, “Agatha? Oh, baiklah, masuk saja.” Agatha memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan sampai terbuka, lalu melangkah masuk. Gadis itu duduk di hadapan Mr. Sven dan menghembuskan nafas yang ternyata sejak tadi ditahannya. Dokter itu mengangkat wajah dari setumpuk berkas pasien di mejanya dan menatap Agatha,

“Apa yang terjadi sampai kau mendatangiku kemari? Kau bisa menelpon.”

Agatha mengangguk kaku dan tersenyum masam, “Ponselku rusak dan sedang diperbaiki. Telepon rumahku sudah disegel karena bulan lalu aku tidak membayar tagihan, begitulah.”

Dokter itu hanya mengangguk pelan. Setelah membenarkan letak kacamatanya, wajah dokter itu berubah serius. “Jadi untuk apa kau menemuiku? Ini tentang Vincent bukan?”

Agatha meremas jari tangannya dan berbicara dengan suara rendah. Yang terdengar begitu lirih dan tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri. “Aku melihat tangannya bergerak. Yah, hanya sesaat saja. Dan aku ingin kau memastikan bahwa aku tidak berhalusinasi.” Di akhir penjelasannya, Agatha sekilas melihat sinar keterkejutan dokter itu berkelebat di matanya yang tampak lelah.

“Kau sungguh melihatnya?”

Agatha membasahi bibirnya dan mengangguk pelan. “Aku tidak mungkin tidak bersungguh-sungguh untuk urusan yang satu ini dokter.”

Dokter Sven menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan berdehem “Jadi, yang kau ingin aku lakukan adalah…”

“Membawanya kembali ke rumah sakit.” Sahut Agatha.

“Baiklah, mari pindahkan dia kesini. Aku akan mengirimkan ambulan untuk memindahkannya. Kuharap kau benar-benar melihatnya, Agatha. Aku harus berdoa untukmu.” Kata dokter itu lagi.

Sejenak mata gadis itu menatap kosong, lalu beranjak ke wajah lawan bicaranya.

“Kalau begitu, aku percayakan semuanya padamu. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu.” Agatha mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri. Setelah Dokter Sven mengangguk, Agatha berterimakasih dan meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru.

 

 

“Kau sudah tidak bekerja berminggu-minggu dan sekarang kau datang untuk meminta gaji bulan depan? Astaga. Agatha kau adalah mimpi buruk.” Suara bernada menyebalkan itu adalah milik Mrs. Jen. Bos tempat gadis itu bekerja.

Agatha berusaha memperlihatkan ekspresi yang normal, padahal dalam otak gadis itu bercokol pikiran-pikiran bagaimana ia harus membuat nyonya besar itu berhenti memakinya. Dan ia punya alasan yang masuk akal untuk itu. Pertama, ia tidak membolos selama berminggu-minggu, hanya enam hari saja. Kedua, ia benar-benar tidak tahan mendengar suaranya. Memplester mulut itu sepertinya menjadi ide yang bagus.

“Mrs. Jen, aku tidak berangkat kerja hanya selama enam hari saja. Kurasa…“

Mrs. Jen melotot, “Kau bilang HANYA? Karyawan magang bahkan tidak ada yang semalas itu.”

Agatha tidak tahu harus berkata apa. Juga tidak tahu harus berpikir apa atau berbuat apa. Ia hanya merasakan dorongan kuat untuk membela diri. Mengatakan pada bos itu bahwa adiknya sedang koma belum juga sadar selama 2 tahun dan ia butuh uang untuk pengobatannya karena mulai hari ini Vincent akan ia serahkan ke rumah sakit. Tapi di sisi lain ia merasa tidak perlu menceritakan masalah keluarga pada bosnya, untuk apa? Menambah kosa kata agar Mrs. Jen bisa mencacinya lebih lama lagi? Dengan kemungkinan ia bisa hilang kendali dan melukai bosnya itu secara fisik? Tidak. Ia harus diam. Seolah mati.

Namun, kadang tubuh dan otak tidak melakukan sinkronisasi dengan sempurna bukan? Ada saat dimana keduanya saling bertolak belakang. Dan itulah yang tejadi pada Agatha. Dan sialnya itu terjadi sekarang. Di hadapan bosnya yang mengerikan. Ia tanpa sadar mengatakan pembelaan diri, bahwa ia tidak bekerja karena ia harus melihat sendiri barangkali adiknya mengalami perubahan yang membaik.

“Kenapa kau mengatakan masalahmu padaku? Kau pikir aku peduli? Kau pikir bahkan aku percaya? Aku hanya butuh profesionalitas. Bukan cerita opera sabun.” Sebelum Agatha sempat bereaksi, Mrs. Jen menambahkan, “Jangan kembali lagi!”

Agatha mengumpat dalam hati. Bagus, ia kehilangan pekerjaan untuk yang kesepuluh kalinya.

 

 

Dokter Sven menghubungi ponsel Agatha dan langsung terdengar suara monoton dari operator telepon. Dimana gadis itu di saat genting seperti ini? Vincent berada dalam kondisi kritis begitu tiba di rumah sakit. Rasanya aneh, karena dokter sudah memastikan kondisi anak itu stabil sebelum dipindahkan ke rumah sakit tadi. Setelah beberapa kali menghubungi nomor Agatha tanpa hasil, dokter itu ingat percakapan mereka pagi tadi di dalam kantor pribadinya. Ah, ponsel gadis itu sedang diperbaiki.

“Dokter Sven.” Seorang perawat memanggilnya, suaranya terdengar panik. Membuatnya menduga bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Apa yang terjadi?”

Lalu apa yang dikatakan perawat itu setelahnya membuat Dokter Sven begitu terkejut. Ponsel dalam genggaman tangannya terlepas dan menimbulkan bunyi “prak” yang menyedihkan ketika membentur lantai rumah sakit yang keras.

Ia tertegun. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Agatha tentang ini? Apa yang harus ia katakan pada gadis itu ketika datang nanti dan bertanya apakah Vincent baik-baik saja? Ia sudah terlalu sering melihat ekspresi sedih dan terluka yang terlukis di wajah Agatha. Dan untuk kali ini, ia tidak sanggup lagi melihat ekspresi Agatha yang pasti lebih menyedihkan lagi.

Lift berdenting terbuka, dan “Dokter Sven, bagaimana kondisi Vincent?” Astaga. Gadis itu datang.

Dokter Sven memaksakan seulas senyum dengan harapan ia tidak terlihat aneh dengan senyum kaku itu. “Kau harus melihatnya, ayo kuantar kau ke ruangan Vincent.” Agatha menghela napas dan berjalan mengikuti dokter itu tanpa suara. Ketika dokter itu mendorong pintu ruangan bernomor 204 sampai berayun terbuka, Agatha menggigil begitu suara biip panjang menghampiri indera pendengarannya.

Tidak mungkin suara itu. Vincent baik-baik saja. Alat pemicu jantung yang berbunyi nyaring itu pasti berasal dari ruangan sebelah. Tapi mengapa dokter-dokter dan belasan perawat berlari menuju ruangan Vincent? Agatha merasakan kepalanya berputar-putar.

Itu Vincent yang terbujur kaku dikelilingi oleh dokter ahli yang mengupayakan persiapan penggunaan alat kejut jantung. Agatha membeku.

“Hentikan.” Desisnya. Cukup keras untuk didengar dan membuat semua dokter di ruangan itu tidak bereaksi.

Lalu tiba-tiba Agatha merasa sangat lelah. Ia lelah pada kehidupan yang tidak berhasil dikendalikannya. Ia lelah dengan perasaan kesepian yang memenuhi hatinya selama ini. Dan yang pasti, ia lelah dengan kehidupan yang mendadak terasa begitu kosong.