Delapan kilometer. Bom itu delapan kilometer didepanku. Aku tidak percaya nasib. Artinya esok pagi aku menemukannya. Menggantikan Inu. Jiwa Inu.

Ada serpihan seng dibetisku, ada pecahan kaca di punggungku. Mula-mula hanya itu yang terasa. Aku sudah lupa berapa ratus kali aku terjatuh, pingsan dan tersandung entah karena apa. Nyeri disekujur tubuh ini nyaris tidak tertahankan, penglihatanku makin kabur. Semua syaraf dan otot-otot terasa lambat. Setiap gerakanku terasa seperti reaksi yang tertunda lalu bayangan-bayangan semua benda, kaca, seng dan ledakan seperti slow motion. Lambat dan makin cepat saat menyentuh kulitku.

Darahku mulai mengering, lalu mengerak. Yang sekarang kulihat luka itu, meninggalkan lubang di daging lenganku, diantara sebagian lupasan kulit lainnya. Tuksedo putih yang kukenakan telah berubah menjadi abu-abu pekat dan merah kecoklatan.

“Tuksedoku yang mahal”…

“Sial…”..

Warna-warni telah berubah menjadi abu-abu gosong. Pekat dimana-mana, aspal yang menganga, berbagai macam benda yang mungkin itu potongan tubuh dari tetangga depan apartemenku, atau helder milik Madam Fina yang selalu menyalak keras jika kebetulan berpapasan denganku.

Anjing sialan itu.

Apa Inu?

Suasana pagi terlihat sama saja dengan kemarin, hari ini aku sengaja memasang alarm jam lima pagi. Ada janji makan malam dengan Inu. Sepuluh menit sudah, sengaja aku masih termenung diatas sofa. TV masih menyala dan aku masih mengingat-ingat kembali sepengal mimpi semalam, yang sepengal itu, begitu nyata dan seandainya bisa. Samar-samar, paras wanita itu begitu ayu dan damai. Dan malam nanti, akan aku ungkapkan semua perasaan-perasaan yang setengah mati aku tutup-tutupi. Karena ketakutan terbesarku adalah melihat sikap berbedanya padaku. Aku terlalu takut yang mendalam. Tiga belas tahun mengenalmu dan baru beberapa bulan kemarin entah tepatnya kapan, yang pasti aku seperti melihat “the other sidemu” yang begitu manis dan anggun. Entah sudut pandangku yang melenceng jauh dari alurku. Perasaan ini tidak boleh dibiarkan sedetik pun. Perasaan aneh itu terlanjur menancap dalam-dalam. Aku jatuh cinta padanya. Terbukti sudah Tuhan selalu bersebrangan denganku. Tuhan sialan itu.

Ada ketenangan dalam suaramu. Ada sumber keberanian tak terbatas dari tubuh dan matamu. Sosok yang sangat ingin aku miliki seutuhnya, yang dengan cara dan gayanya yang khas saat dia mengatakan tidak, bukan dan jangan padaku. Sisi yang kukagumi lainnya.

Segala ketakutan dan pengecutnya aku tiba-tiba hilang. Inilah aku yang kalian lihat sekarang. Sosok yang tangguh dan tanpa celah apapun. Seorang pebisnis sukses yang bahkan si Amerika itu mati-matian ingin membeli 0,9 % saham Arcodalem. Perusahaan pengembang tanaman obat yang menyuplai seluruh dunia, ambisi dunia ada ditanganku. Bumi sudah tidak menyanggupi untuk pengembangan nuklir. Akhirnya biologi tumbuhan yang aku dan Inu kembangkan untuk mengembalikan tanah kembali, atau akan ada kiamat lagi satu dekade ini. Lembah gambut asin yang sebenarnya masam lima tahun yang lalu adalah kisah terburuk peradaban di bumi, manusia kembali lagi menghuni gua-gua, karena tembok-tembok beton dan semen melapuk tidak kurang dari waktu sebulan, bumi kembali lagi pada bentuk datarnya yang pepat dan kosong, tingkat kelembaban menghancurkan setiap celah yang tidak bernyawa.

“Manusia-manusia itu harus berterimakasih kepada Inu!”

“Manusia..”

“Hoisst”…

“Manusia-manusia itu tidak mempelajari apapun..”

Untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Inu,

“Hossst, ini karena anggrek sialan.” Argghhh luka-lukaku kembali mengeluarkan darah. Mataku buram kembali, sial.

Aku bangun. Beberapa saat sebelum kesadaranku penuh betul, ku kira ini seperti pagi yang begitu muram. Dan ku kira aku telah terbangun dari mimpi burukku. Bukan. Ini senja beracun. Luka-luka ku ingin membunuhku. Sial, tenggorokanku sakit sekali. Air.

Anggrek. Perusahaan “Hutan” bawah lautku tak tersentuh pelapukan.

Tempat dan waktu pertama kali melihat Inu. Alasan terbesarku membangun hutanku di lautan. Rambut hitamnya masih sepinggul dikepang. Papan seluncurnya berwarna biru, dia seperti menari diatas ombak Mentawai. Gadis itu seperti menimbulkan minatku pada kepulauan yang terletak memanjang dibagian paling barat pulau Sumatera yang dikelilingi oleh Samudera Hindia.

”Bumi Sikerei.” Gadis itu menyebut pulau itu, dia berjalan kearahku, dia pasti tahu aku mengamatinya. Bibirnya seperti mawar yang selalu merekah, beberapa saat aku terpesona dengannya. Mata dan garis alisnya yang tajam itu seperti ingin menelusuk kedalam dan menjalari pikiranku.

Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari serangkaian pulau non-vulkanik dan gugus kepulauan itu merupakan puncak-puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut. Usianya masih muda sekali jelas terlihat dari wajah dan penampilannya tapi tak sebanding dengan pengetahuan yang gadis itu miliki. Begitu luas menyeluruh, atau kadangan begitu menyempit dan mendalam. Mempesona. Bahasanya sederhana. Dan dia tidak bermaksud merayuku.

“Proffesor Saimon?”, gadis itu tiba-tiba menyela pembicaraanku. Alisnya sedikit diangkat.
Aku suka mengingat caranya menebak. Atau caranya berpihak pada sesuatu.

“Gadis keras kepala itu…”

“hooosttt…”

Aku ambruk lagi, aku terlentang memandang langit yang pekat, bintang-bintang terlihat satu dua.

Plakkk…

Aku terbangun, tamparan dipipi kiriku. Sial, aku ingin membalas beribu-ribu tamparan ke muka manusia dihadapanku. Mataku masih menyesuaikan cahaya, tangan dan kakiku terikat dengan senar fiber, tubuhku tergantung terbalik.

“Proffesor Saimon”

Suara itu, logat itu…

“Inu..”

Mataku kupaksakan melihat manusia didepanku. Iyakah????
Suara kaki lain mendekat kearahku.

“BUNUH”

“Password… Password, hanya dia yang tahu…”

 

 

*bersambung…