Departemen Kajian Riset dan Politik (Karispol) BEM FT UNY kembali menyelenggarakan Obrolan Jawara pada Senin (14/11) malam kemarin. Seperti biasanya, Obrolan Jawara kali ini juga bertempat di halaman depan LPTK yang diikuti oleh puluhan mahasiswa FT yang mayoritas adalah pengurus ormawa. Dengan mengangkat tema utama seputar Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan Program Profesi Insinyur (PPI), panitia menghadirkan Prof. Slamet, seorang guru besar sekaligus dosen dari Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan sebagai pembicara utama.

Dimas Ferdiyanto selaku Kepala Departemen Karispol BEM FT mengungkapkan bahwa pemilihan tema tersebut bertujuan supaya mahasiswa lebih paham dengan PPG dan PPI, karena selama ini istilah tersebut masih simpang siur di kalangan mahasiswa. Selain itu, posisi sebagai mahasiswa fakultas teknik namun kependidikan juga dinilainya menimbulkan sebuah dilematika tersendiri. “Orientasi jadi guru tidak sampai 60 persen. Kebanyakan selain itu,” ujarnya.

Untuk PPG sendiri, Prof. Slamet juga mengungkapkan bahwa setelah lulus S1 mahasiswa belum menjadi guru, melainkan baru sebagai sarjana pendidikan. Oleh karena itu, untuk bisa menjadi guru mereka harus mengikuti program PPG. “Lulus 4 tahun belum jadi guru, baru jadi sarjana pendidikan,” ujarnya. Sedangkan untuk menyelenggarakan PPI, Ia mengungkapkan bahwa masih ada tanda tanya besar, apakah UNY mampu atau belum. Pasalnya untuk menyelenggarakan PPI ini diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, disamping itu juga kompetensi pengajar yang mumpuni. “Harus ada sarana dan prasarana yang dipenuhi. Tapi UNY sudah lebih baik, dibandingkan dengan yang jelek-jelek,” tambahnya sambil tertawa.

Obrolan Jawara kali ini diharapkan dapat menjawab kegalauan mahasiswa tentang masa depan mereka, apakah akan memilih jalan PPG atau PPI. “Harapannya kegalauan mereka mulai teratasi,” tutup Dimas. [Widi]