Saat ini Indonesia sedang berada dalam situasi “kewalahan” . Hal ini mempengaruhi berbagai aspek, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, bisnis hingga hiburan. Penyebabnya bukan lain ialah Covid-19 yang lebih sering disebut Corona. Virus ini ditemukan pertama kali di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. Penyebaran virus ini terjadi dengan sangat cepat tanpa mengenal batas negara, menjadi pandemi sekaligus tragedi diabad 21.

Ancaman ini membuat pemerintah mulai memikirkan berbagai jalan keluar untuk menyudahi pandemi ini. Coba kita tarik sedikit waktu kebelakang, ketika virus ini menyerang China, beberapa negara sudah menyiarkan dan mewanti-wanti penduduknya atas bahaya ancaman yang akan datang. Dengan kata lain pemerintah sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Hal lain yang mereka lakukan adalah meningkatkan pengawasan di jalur keluar dan masuk wilayah agar dapat meminimalisir penyebaran.

Berbeda dengan negara lain, Indonesia dinilai lebih santai dalam menghadapi pandemi ini. Contohnya disaat genting saat ini, pemerintah masih menyibukan diri dengan membahas UU yang mempermudah investor dan membuka lebar pintu bagi wisatawan asing dan TKA demi kepentingan ekonomi.

Melihat keadaan ini membuat saya teringat ucapan seorang filsuf bernama Machiaveli “Ancaman yang kelihatan mudah untuk disembuhkan, namun apabilakita menunggu terlalu lama untuk mengatasinya, ibarat obat yang tidak diberikan tepat pada waktunya, tidak akan bermanfaat.” Ancaman atas virus ini bukan hal yang mudah, kita harus memiliki persiapan serius untuk menghadapinya. Namun, ibarat beras yang kita tanak tidak menjadi nasi malah menjadi bubur akibat lalai memperhatikan takaran air. Sekarang, tinggal bagaimana kita mengolahnya dengan baik. Ini menjadi pelajaran penting bagi jajaran pemerintah untuk dapat memilah hal yang lebih urgent.

Sampai hari ini tercatat ribuan masyarakat telah terinfeksi dan ratusan diantaranya meninggal bahkan anggota medis turut tumbang menjadi korban. Banyak acara penting di suspend, konser dibatalkan, hingga UN jenjang SMP dan SMA harus ditiadakan, kebutuhan pangan menjadi hal yang sangat penting. Kebijakan social distacing dalam skala besar baru diumumkan 2 minggu sesudah virus ini diumumkan hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus. Menyusul kebijakan social distancing, pemerintah mengungumkan akan menggratiskan biaya listrik bagi masyarakat.

Melihat Pemerintah pusat yang tidak kunjung mengeluarkan kebijakan tentang lockdown, beberapa wilayah mengambil tindakan untuk mengkarantina pnuh wilayahnya contohnya kota Tegal. Walikota Tegal, Dedi Yon Supriyono, bahkan mengatakan jika dirinya siap dibenci masyarakatnya daripada maut menjemput mereka. Selain Tegal, Aceh pun menghimbau untuk perantau tidak pulang untuk sementara waktu. Di Jogja, beberapa desa sudah ditutup atau diawasi jalan masuk dan keluarnya.

Akibat lain dari pandemi saat ini sangat dirasakan oleh pekerja baik kantoran, buruh hingga pedagang kaki lima. Pekerja kantoran di rumahkan sampai batas waktu tertentu dengan gaji yang tidak dibayar penuh, pedagang kaki lima sepi pembeli. Tentu, kejadian ini akan memperngaruhi kestabilan ekonomi masyarakat.

Baca Juga:
Kebijakan Simalakama: Wafat Karena Covid atau Mati Kelaparan

Menanggapi situasi ini, beberapa individu maupun golongan mulai mengambil bagian dalam membantu masyarakat menghadapi pandemi ini. Di Surabaya ratusan pegawai pemerintah mendedikasikan diri untuk membuat tamabahan makanan, alat pelindungan diri, cairan antiseptik, hingga berkeliling untuk menyemprotkan disenfektan. Selain Surabaya, ASN (Aparat Sipil Negara) di Jawa Barat menyisihkan sebagian dari gaji dan tunjangannya sebagai donasi kepada penanggulangan virus ini. Sama halnya dengan Jawa Barat, kota Singkawang melakukan hal yang serupa.

Tidak ketinggalan, warga sipil juga turut mengambil bagian. Contohnya, di Yogyakarta masyarakat bergotong royong mendirikan dapur umum guna membantu masyarakat yang kesulitan pangan. Beberapa desainer berkolaborasi dengan pabrik konveksi untuk menjahit APD (Alat Pelindung Diri) dan masker bagi para tenaga medis. Hal ini dilakukan karena melihat realita stok APD yang semakin menipis.

Saya sendiri menjumpai hal serupa di sebuah warung kecil yang menyediakan masker gratis bagi siapa saja. Warga sekitar rumah juga bergotong royong menyemprotkan disenfektan dari rumah ke rumah dan hal ini dilakukan secara sukarela. Selain itu, mereka juga membagikan sembako hasil dari swadaya warga secara gratis.

Kejadian ini membuktikan bahwa masyarakat bisa menghadapi dan saling bahu membahu demi keselamatan bersama. Selain itu, peristiwa ini membuktikan bahwa pepatah “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” benar adanya.

“Corona ini sudah digariskan oleh Sang Kuasa mas, tinggal kita mampu atau tidak melewatinya, kalu garis kita sudah lewati ya sudah bakal normal,” begiulah kata penjual batagor dekat rumah kepadaku, tepat sehari sebelum dia memutuskan untuk menutup usahanya dalam sementara waktu. . Situasi baik akan datang, yakinilah, namun sebelum itu kita harus mampu melewati situasi buruk ini terlebih dahulu. Dalam siuasi seperti ini, sikap egois mementingkan diri sendiri tidak akan meyelesaikan masalah yang ada. Kita harus bahu-membahu menjaga kebersihan, disiplin dan yang terpenting social distancing. Hal kecil seperti itu akan sangat membantu memerangi virus ini. Ibarat api kecil, lama-kelamaan akan menjadi kobaran dan akan membawa kita keluar dari kegelapan saat ini sehingga dapat melanjutkan aktifitas seperti semula, kobaran ini adalah harapan kita bersama.

Penulis: Airlangga