Rabu (6/05/20) adalah hari pertama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Banjar dan daerah lain di seluruh wilayah Jawa Barat. Hal tersebut juga adalah upaya dalam menekan angka penyebaran virus COVID-19 yang kian lama kian merebak.

Bagi aku sendiri, hal tersebut adalah yang pertama kali sepanjang hidup dimana mobilitas, ruang gerak bersosialisasi, dan bercengkrama dengan saudara jauh begitu terbatas dan hanya bisa dilakukan secara jarak jauh melalui media daring.

Tidak mudah memang untuk mensukseskan kebijakan ini. Dimana manusia sebagai mahluk sosial pasti akan merasa terkungkung dengan segala pembatasan yang dianjurkan. Belum lagi, kecukupan logistik juga perlu diperhatikan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi kedepanya.

Hari pertama PSBB, 6 Mei 2020. Jauh dari penggambaranku di awal tulisan, ternyata keadaan masih seperti biasa. Lalu lalang kendaraan, mobilitas orang masih bisa kutemui seperti biasa.

Pasar tradisonal pun masih beroperasi layaknya hari-hari sebelumnya, pedagang masih menjajakan dagangan secara penuh, dan pembeli pun beraktivitas seperti biasa; memilah dan memilih barang serta menawar setiap harga.

Meskipun tidak dapat dipungkiri, dari penuturan sejumlah pedagang, bahwa jumlah pengunjung yang datang sejak merebaknya virus ini berkurang dan hal tersebut begitu berdampak pada penghasilan yang diperolehnya.

“Ya pembeli berkurang, dampak juga ke hasil (uang) yang didapat”, jawab seorang pedagang makanan ringan yang tengah berpangku tangan menunggu pembeli.

Selepas kulihat pasar tradisional masa PSBB hari pertama, tujuanku selanjutnya adalah melihat bagaimana gotong royong masyarakat mencegah penyebaran virus ini.

Dari jauh, kulihat sebuah posko berwarna biru dengan 2 meja membentuk huruf L bertuliskan “Posko Relawan Desa Cegah Covid-19”. Di posko tersebut telah tersedia hand sanitizer serta desinfektan.

Seolah sengaja, aku tidak berhenti di posko tersebut, alasanya hanya satu, apakah bakal ada posko serupa juga di daerah lain?. Ternyata, kepenasaranku terpecahkan, daerah-daerah lain juga telah mendirikan posko serupa dengan ciri khasnya masing-masing. Ada yang membuat posko dari bambu, tenda untuk sebuah hajatan, bahkan di sebuah pos ronda.

Akupun memutuskan berhenti di posko yang didirikan di pos ronda. Tepatnya di daerah Bojongkantong, Kecamatan Langensari. Kira-kira 4 orang yang sedang menjaga posko di siang tersebut. Aku berhenti dan membiarkan relawan tersebut menyemprotkan cairan desinfektan pada motorku.

Dari mereka aku temui sesuatu, bahwa dalam menjaga posko, dilakukan penggantian penjaga sesuai shift. Biasanya, penggantian penjaga dilakukan tiga kali dalam sehari, yaitu pagi-siang, siang hingga magrib, dan malam hari.

Penjaga posko pun beragam, terdiri Rt 01 hingga Rt 04 sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Apabila pagi hingga siang, mayoritas penjaga posko adalah ibu-ibu dan remaja wanita. Sedang, siang hingga sore hari biasanya remaja lelaki, serta pada malam hari adalah orang yang tengah melakukan ronda.

“Gantian, dari Rt 01 hingga 04. Yang jaga juga beda-beda”, Ujar Ketua Rt 01 yang kebetulan jaga siang itu.

Lebih lanjut, akupun menyaksikan bagaimana masyarakat menerapkan sistemnya sendiri dalam menjaga lingkunganya di tengah pelik pandemic seperti sekarang ini. Setiap tamu, baik motor, mobil, atau tamu lain yang menggunakan bermacam moda kendaraan diberhentikan di pos pemeriksaan. Mereka ditanya ihwal perjalanan; darimana, akan kemana, hingga akan mengunjungi siapa.

Tidak lama dari pertanyaan itu, penjaga akan mempersilahkan orang tersebut untuk mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dan menyemprotkan cairan desinfektan kepadanya.

Baca Juga:
Kebijakan Simalakama: Wafat Karena Covid atau Mati Kelaparan

Hari ketujuh PSBB, 13 Mei 2020. Keadaan semakin seperti biasa. Tidak ada penjagaan ketat yang dilakukan petugas. Hari ini, ruteku tetap sama seperti hari pertama PSBB, hanya saja kutambahkan satu rute lagi menuju pos check point perbatasan antara wilayah Banjar dan Ciamis yang berada di Desa Tambakreja Kecamatan Lakbok.

Aku berhenti sedikit jauh dari pos check. Di daerah tersebut, pos check point kedua wilayah hanya berjarak beberapa puluh meter. Pembedanya hanya satu, jika pos check dengan tenda biru konstruksi besi itu adalah pos penjaga wilayah Banjar, maka pos check wilayah Ciamis bertenda putih dengan konstruksi bambu.

Penjaganya pun beragam, mulai dari Polisi, Tentara, Satpol PP, Dinas Perhubungan, hingga lembaga kemasyarakatan seperti Banser.Tidak banyak kegiatan yang mereka lakukan, apalgi di pos check wilayah Banjar, petugas hanya duduk sembari memperhatikan mobil yang lalu lalang. Entah, kondisi ini berbeda dengan pos check wilayah Ciamis. Di pos itu, banyak mobil yang diberhentikan, ditanya akan kemana dan membawa apa dan siapa.

Perbedaan kondisi tersebut adalah akibat dari minimya orang yang akan masuk ke wilayah Banjar via perbatasan itu. Dan kemungkinan besar, mobil dengan plat beragam seperti D (Bandung), B (Jakarta), E (Kuningan) dan lainya telah di periksa di pos check lain yang tersebar di 9 wilayah perbatasan.

Akupun melanjutkan perjalanan. Aku itari Langensari, melihat pasar Langen yang tengah beroperasi dengan beragam transaksi dagang, toko-toko yang semakin ramai oleh ibu-ibu pembeli bahan kue, hingga riuh pekerja konstruksi pipa yang duduk diam sembari menghisap sebatang rokok dalam-dalam.

Posko-posko yang diwaktu awal penerapan PSBB ramai orang menjaga, kini tinggal meja dan sisa hand sanitizer. Wajar, fisik yang kian terkuras karena puasa tengah memasuki bulan pertengahan, membuat banyak relawan lebih memilih hadir pada malam hari selepas berbuka.

Hari 14 PSBB, 20 Mei 2020. Udara pagi masih segar terasa, menyesap memenuhi paru-paruku pagi itu. Meski masih pagi, riuh warga telah menggema untuk melakukan berbagai kegiatan.

Di pagi itu pula, Selentingan kabar terdengar hingga ke penjuru kampungku. Dalam beritanya, orang-orang ramai membicarakan swalayan Yogya yang telah beken selama 10 tahun lebih di Kota ini. Bukan karena mereka akan membuka cabang baru, tapi karena salah satu karyawanya telah dinyatakan reaktif COVID-19.

Untuk membuktikan hal itu, akupun mencari sumber yang dapat kupercayai akan hal ini. Di laman Harapanrakyat.com, dr. Sari Wiharso, petugas tim gugus tugas penanganan COVID-19 Kota Banjar membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kepastian itu didapat setelah sebelumnya dilakukan Rapid test masal pada Minggu (17/5/2020).

“Untuk Toserba Yogya yang diperiksa 41 karyawan dan 9 pengunjung, dengan reaktif RDT 1 orang karyawan”, ungkapnya.

Dengan beragam pertimbangan, esok harinya aku putuskan untuk melihat kondisi swalayan Yogya setelah salah satu karyawanya dinyatakan reaktif. Sekitar 30 meter jaraknya aku berhenti dan mengamati. Tidak disangka, ternyata pengunjung masih terlihat seperti biasa. Hanya saja, penjagaan pintu masuk lebih diperketat.

Kini, akses pintu masuk diurai menjadi dua jalur dengan pembatas plastik di tengahnya. Terlihat juga petugas polisi yang berteriak agar pengunjung saling jaga jarak. Keadaan tersebut kurenungkan beberapa saat, meski akhirnya perenunganku terhenti saat petugas parkir meneriakiku agar memarkirkan kendaraan ketimbang diam di pinggir jalan. Akupun bergeming, dan menolaknya secara halus bahwa aku akan melanjutkan perjalanan pulang saja. Di sela-sela perjalanan itu, aku melihat beragam hal, dari sosialisasi penanganan COVID-19 hingga penutupan akses pintu masuk perkampungan. Saat itu pula aku bertanya di dalam lubuk hati, bagaimana bisa dua peristiwa kontradiktif ini terjadi di satu waktu bersamaan; satu acuh dan satu peduli.

Penulis: Teguh