Beberapa hari lalu saya mengikuti kuliah melalui Google Meet untuk mata kuliah Media Pembelajaran Kejuruan. Kali ini materi yang disampaikan tentang “Pembelajaran Daring”. Dalam pembahasannya, dosen menjelaskan materi melalui powerpoint dengan baik.

Ketika dosen sedang menjelaskan materinya, menurut saya materi ini sangat sesuai dengan kondisi yang sedang dialami mahasiswa di Indonesia saat ini. Kinisemua kelas berubah menjadi kelas virtual dikarenakan pandemi sejak bulan Maret.

Dalam pemaparan materinya, dia mengatakan bahwa baik dari pihak pendidik maupun peserta didik kaget, kedua pihak belum siap untuk melaksanakan kelas daring. Bisa dilihat dari banyaknya keluhan yang dilontarkan mahasiswa di media sosial. Contohnya saja seperti kalimat “Negatif covid, positif sakit karena tugas.” dan kalimat serupa lainnnya yang sering saya temukan di timeline Twitter atau storyWhatsaapp.

Selain mahasiswa, saya rasa dosen mengalami kesulitan tersendiri dalam menyampaikan materi. Jika biasanya penyampaian materi hanya menyiapkan powerpoint kemudian ditayangkan di kelas dan memberi penjelasan secara langsung ke mahasiswa. Sekarang, pemberian file materi dalam bentuk word atau powerpoint, evaluasi dan deadline tugas menjadi metode pengajaran baru. Beberapa dosen memilih untuk menggunakan video conference sebagai metode pengajarannya, seperti yang saya hadiri sekarang. Ada pula yang melaksanakan kelas daring melalui Whatsapp Group dengan berdiskusi online.

Dari beberapa metode tersebut, dosen di jurusan saya saat ini lebih memilih melakukan pembelajaran dan pemberian materi melalui Besmart beserta tugas dengan deadline yang sudah ditentukan. Selain itu, ada pula dosen yang melakukan video conference. WAG biasanya digunakan untuk mengungumkan jika ada tugas yang harus diselesaikan.

Jika mengadakan video conference, dosen dan mahasiswa harus rela berkorban kuota internet. Belum lagi masalah kualitas jaringan yang berbeda-beda. Hal ini menjadi salah satu pemicu dan alasan dosen lebih memilih untuk mengunggah materi dan memberi tugas melalui Besmart saja. Keputusan tersebut yang menjadi sumber masalah bagi mahasiswa, dengan mendengarkan penjelasan secara langsung di kelas saja tidak paham apalagi tidak dijelaskan.

Selain itu, saat ditanya tentang evaluasi metode pembelajaran yang dilakukan dosen oleh pihak birokrasi, dia mengatakan jika tidak ada evaluasi yang dilakukan terhadap dosen. Hal ini menyebabkandosen harus berinisiatif melakukan evaluasi secara mandiri.

Baca Juga:
Kebijakan Simalakama: Wafat Karena Covid atau Mati Kelaparan

Tahun Ajaran Baru

Sebelum memulai tahun ajaran baru, tenaga pendidik melakukan penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang di dalamnya terdapat tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Untuk mencapai hal tersebut, tenaga pendidik harus menentukan metode yang paling efektif agar tujuan pembelajaran tercapai. Dan pada tahun ajaran kali ini, silabus dan RPP yang telah disusun harus diatur lagi sedemikian rupa agar tercapainya tujuan pembelajaran. Salah satu hal yang harus dilakukan yaitu memilih metode yang paling efektif dengan keadaan melihat keadaan saat ini. Untuk mengetahui apakah metode itu layak diperlukan adanya penelitian atau survei. Hasil dari survei ini nantinya dapat dijadikan bekal evaluasi metode pembelajaran.

Terhitung sudah dua bulan pelaksanaan pembelajaran daring dan dalam kurun waktu ini saya rasa cukup untuk melakukan survei. Namun, sampai saat ini birokrasi khususnya jurusan belum melaksanakan evaluasi metode pembelajaran. Dengan label kampus pendidikan, saya pikir hal – hal yang bersangkutan dengan mendidik dan pendidikan seperti evaluasi metode pembelajran akan lebih dipertimbangkan. Terlebih melihat silabus dan RPP yang tidak dapat dilaksanakan secara maksimal. Melihat metode pembelajaran daring yang saat ini belum efektif, saya rasa jika nilai Ujian Akhir Semester mahasiswa kurang memuaskan itu wajar.

Penulis : Dieni Nugrahini

Editor : Nia