68 tahun setelah kematian Joseph Vissarionovich Stalin atau tepatnya pada tahun baru Saka 1943, umat Hindu Bali sedang merayakan Hari Raya Nyepi. Ya, itu adalah hari ini.

Tidak ada hari tanpa sejarah. Begitu pun dengan Hari Raya Nyepi. Lantas bagaimanakah sejarah dan asal muasal Nyepi itu sendiri?

Sejarah Nyepi

Awal mula kisah Nyepi dimulai dari negara asal ajaran Hindu, yakni India. Dahulu kala, di negeri di mana Kajol Devgan tinggal itu terdapat banyak suku di antaranya ada suku Pahiava, Yueh Chi, Yavana, Saka dan Malaya.

Suku-suku tersebut saling bertikai karena ambisi menjajah dan memperluas daerah kekuasaan masing-masing.

Pertikaian panjang tersebut terus berlangsung dan melahirkan beragam dinamika kehidupan masyarakat khususnya perbedaan paham keagamaan. Sampai akhirnya, suku Saka di bawah pimpinan Raja Kanishkha I berhasil menyatukan kembali bangsa yang penuh pertikaian tersebut pada bulan Maret tahun 78 Masehi.

Sejak itulah tarikh Saka dimulai. Kehidupan masyarakat India dalam hal berbangsa dan beragama pun ditata kembali. Keberhasilan ini lantas disebarluaskan dari awalnya hanya di India dan sekitarnya lalu meluas ke wilayah Asia lainnya termasuk sampai ke Indonesia.

Tidak heran jika Nusantara kala itu memiliki banyak kerajaan bercorak Hindu. Mulai dari kerajaan Kutai, Sriwijaya hingga Majapahit.

Hanya Ada di Indonesia

Rupanya, perayaan nyepi ini hanya ada di Indonesia. Kata Nyepi berasal dari kata dasar sepi. Berbeda dari perayaan tahun baru lainnya yang penuh hingar-bingar selebrasi, masyarakat Hindu Bali justru memaknai pergantian tahun baru mereka melalui perayaan kesunyian.

Sebuah perayaan yang disambut dengan senyap tanpa huru-hara euforia dan gemerlap kembang api. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari muhasabah diri.

Di hari H perayaan Nyepi, umat Hindu Bali mesti menaati Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni (tidak menghidupkan atau menggunakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Maka maklum apabila pada Hari Raya Nyepi, Bali tampak seperti kota mati. Tidak ada kendaraan satu pun yang memenuhi jalanan dan nihil aktivitas di muka umum.

Selama Hari Raya Nyepi ini, banyak layanan transportasi umum ditutup sementara termasuk Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Meski hanya sehari namun perayaan Nyepi ini memberi dampak positif bagi lingkungan. Masyarakat yang berdiam diri di rumah mampu menurunkan tingkat emisi gas kaca sebesar 33%.

Selain itu juga dapat menghemat pemakaian listrik hingga 59% atau jika dirupiahkan setara dengan biaya 4 miliar untuk 290 MW.

Dampak positif ini rupanya menginspirasi PBB untuk membuat World Silent Day yang jatuh pada tanggal 21 Maret setiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk mengurangi global warming dengan menghentikan penggunaan listrik dan kendaraan selama pukul 10.00-14.00.

Baca juga

Isra’ Miraj, Supersemar, dan Benang Merah Sejarah

Memaknai Sunyi

Meski hanya dirayakan oleh umat Hindu Bali tetapi tidak ada salahnya kalau kita mengambil hikmah positifnya terlepas dari tedeng aling-aling keyakinan masing-masing.

Mari kita mulai dengan pertanyaan, “apa sih sunyi itu?”

Menurut KBBI, sunyi merupakan adjektiva (kata sifat) yang memiliki makna “tidak ada bunyi atau suara apa pun”. Padanannya adalah hening; senyap.

Dengan pengertian yang demikian, bisa disimpulkan bahwa di mana keramaian itu hilang, di situlah sunyi itu ada. Sebuah situasi yang mana kerap membuat seseorang merasa sangat kosong dan pikiran melayang dengan segala kecamuk duga dan gelisah.

Bahkan hal ini termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an.

“Demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu,” begitu bunyi kutipan ayat dari Surat Adh-Dhuha.

Tidak bisa dipungkiri, sering kali ketika malam tiba dan kantuk menjadi barang langka, kita lantas memikirkan tentang banyak hal. Entah tentang kekhawatiran finansial, tuntutan hidup realistis atau problem eksistensialis.

Semua itu tiba-tiba datang begitu saja. Menjadi hal-hal yang seketika kita renungkan. Memang benar kata Stephen King dalam bukunya Bag of Bones bahwa “renungan itu seperti hantu, datang tanpa diundang”.

Ya, masing-masing orang memiliki definisinya sendiri. Ada yang menyatakan ungkapan paradoksikal bahwa hanya dalam keheningan, manusia bisa mendengar isi dari keramaian.

Oke, jika itu bisa membuat Anda “tampak” lebih eksklusif untuk menjauhi keramaian, wahai Filsuf Kontemporer!

Ada pula yang menganggap sunyi adalah sebuah kenikmatan spiritual. Mungkin itu sebabnya, Bunda Theresa berujar bahwa Tuhan “bersemayam” dalam sunyi.

Atau yang juga melandasi filsuf India, Adi Shankaracharya mengatakan bahwa sunyi adalah pintu pertama menuju keunggulan rohani.

Dan mungkin juga hal tersebut yang mendasari beberapa orang rela bangun di tengah malam, menunaikan sujud demi sujud guna mengkhidmati saat-saat intim seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Ada yang menyakralkan sunyi, ada pula yang mengutuk sunyi. Merekalah, pria-pria yang memutuskan menikahi “kesendirian” setelah Sang Pujaan Hati menikah dengan pria lain.

Merekalah, wanita-wanita yang ditinggalkan janji setia sementara Sang Pangeran mengembara ke mana. Mungkin sudah binasa, mungkin pula menjelma Cassanova.

Dan merekalah, janda atau duda yang telah ditinggal mati suami atau istrinya dan sialnya, tidak bisa mencintai sosok yang lain lagi.

Ketika Adam seorang diri di Surga, mungkin juga dia sudah merasakan kesunyian lantas lahirlah Hawa dari tulang rusuknya. Barangkali Adam adalah bukti bahwa rasa sunyi benar-benarlah sebuah kutukan bahkan ketika kau berada di Surga sekalipun.

Terlepas dari apa pun pemaknaan objektif dan subjektifnya, marilah kita rayakan “nyepi” dan sepi ini dengan kebijaksanaan dalam memandang kehidupan.

Menjadi komponen dari harmoni alam semesta yang masih akan terus berbunyi sampai berganti tiupan sangkakala pada hari akhir nanti.

Penulis: Lindu

Penyunting: Akbar